Tepat pukul 2.45, pemandu kami Hans mengajak para peserta berkeliling. Hans menjelaskan, panjang stadion ini 258 meter, lebar 227 meter, dan tinggi 50 meter. Di dalam kompleks stadion ini ada 28 kios, 2 foodcourt, restoran, ruang konferensi pers, 54 konter tiket, ruang ganti baju para pemain, lounge, sampai ruang untuk ganti popok bayi. Kami dibawa ke deretan kursi-kursi penonton di bagian tengah. Di sini, kami diajari menirukan yel-yel suporter Bayern Muenchen, agar merasakan aura sebenarnya saat pertandingan berlangsung.
Ruang Ganti Franck Ribery
Kami lalu turun ke bagian yang lebih dekat dengan lapangan bermain. Lapangan rumput stadion ini berukuran 68 x 105 meter, terdiri dari hamparan rumput berukuran masing-masing 2,2 x 15 meter dengan ketinggian selalu dijaga 3 cm. Di bawahnya masih ada lapisan tanah liat dan pasir, dan juga sistem pemanas untuk menjaga agar suhu lapangan selalu konstan. Kami lalu masuk ke terowongan tempat keluarnya para pemain saat akan bertanding, lalu ke lounge untuk para sponsor kesebelasan, dan ke ruang tempat pelatih menggelar jumpa pers setelah pertandingan selesai.

Lapangan rumput belang-belang yang selalu dirawat dan dijaga suhunya dengan pemanas.
Yang paling mengesankan adalah mampir ke ruang ganti baju para pemain. Ada 4 ruang ganti baju, masing-masing dua untuk Bayern Muenchen dan TSV 1860, lalu ada 4 ruang untuk pelatih, dan 2 ruang untuk wasit. Para pemain mempunyai lemari terbuka berjejer, masing-masing diisi dengan kaos mereka yang digantung dengan nomor punggung dan nama menghadap ke muka. Jadi kami langsung tahu mana kaos Franck Ribery, Arjen Robben, atau Philipp Lahm. Kaos kiper Lehmann dan Agostino mempunyai warna berbeda dengan pemain lainnya.

Ruang ganti para pemain Bayern Muenchen. Mau pilih kaos yang mana (andaikata boleh nyomot)?
Di atas kaos itu tersimpan handuk, sedangkan di bawahnya ada tumpukan celana, lalu sepatu-sepatu yang berjejer rapi di lantai. Masing-masing pemain punya 3 pasang sepatu, yang ternyata bermerk Nike Zoom. Saya baru tahu juga kalau warna sepatu para pemain tidak harus seragam misal merah semua, tapi ada juga yang berwarna hitam atau putih.
Ternyata Dinding Plastik
Pemandu mengajak kami ke ruang media, di mana semua keperluan para wartawan tersedia di sini. Terakhir kami diajak mengetahui lebih jauh apa sebenarnya panel-panel menggembung yang menjadi dinding luar dan atap stadion ini.

Allianz Arena berganti-ganti warna dari putih-merah-biru-hijau saat malam.
Pandangan mata saya ternyata tertipu. Tadinya saya mengira panel-panel dinding itu terbuat dari bahan gelas yang padat. Ternyata bukan, karena ternyata dibuat dari plastik Ethylene Tetrafluoro-Ethylene yang berongga. Plastik itu tebalnya hanya 0,2 mm dan sangat ringan, namun kalau dipandang sekilas sepertinya berat dan padat. Hal ini karena setiap saat kipas-kipas angin besar mengalirkan udara ke dalam panel-panel ini agar tetap menggembung. Meski tipis dan ringan, plastik ini bisa tahan 25 tahun, tahan api, tahan panas dan dingin, serta bisa bersih sendiri dengan siraman air hujan. Di area atap, panel-panel ini tidak berwarna, alias transparan. Sedangkan di dinding, warnanya putih atau putih kusam tergantung terkena sinar matahari atau tidak.

Bukan metal bukan kaca tapi plastik khusus.
Total ada 2.874 panel penyusun dinding dan atap, dengan total area yang ditutup mencapai 64.000 meter persegi. Konon, ini adalah dinding panel membran terbesar di dunia. Sejumlah 1.056 panel itu diberi sistem pencahayaan, yang tersusun dari sekitar 25 ribu lampu fluorescent. Saat malam hari, lampu-lampu inilah yang merubah warna stadion ini dari putih ke merah, biru, atau hijau.
Tur selama satu jam pun berakhir, dengan satu pertanyaan menggantung: jadi, kapan saya bisa melihat Ribery bermain di sini, sambil menikmati warna dinding stadion yang berganti-ganti? [T]
Catatan:
Foto utama dan beberapa foto lainnya merupakan dokumentasi Allianz Arena.
Mas Teg, makasih udah nulis ini. Saya bukan penikmat dunia sepakbola tapi serasa ikut perjalanannya.
Hehehe, iya. Seru ya. Apalagi kalo datang pas lagi pertandingan, bisa dibayangin gemuruh penontonnya.