Journey, Mancanegara

Pria Telatan di Bangkok

Besok siang, kami mesti menghadiri acara Friends of Thai Award di Central Ballroom di lantai 22. Acaranya jam 4 sampai 8 petang, tapi kami diharapkan hadir di ballroom ini jam 3.15 untuk gladi resik. Karena pagi tidak ada acara, alias waktu bebas, saya gunakan untuk memotret-motret sistem transportasi kanal air di Bangkok, lalu ke Grand Palace. Well, saya sudah beberapa kali ke Bangkok, tapi belum pernah juga ke sini. Padahal menurut pameo, “Jangan bilang sudah pernah ke Bangkok kalau belum ke Grand Palace”. Jadi ya, kali ini harus mampir.

Dan memang benar, saya akan menyesal kalau tidak mampir ke sini. Sebab ternyata istananya sungguh keren dan cantik! Benar-benar surga buat fotografer. Setiap sudut seperti harus dipotret!

Meski begitu, saya tak lupa kapan harus ‘cabut’ dari istana ini. Begitu alarm handphone saya berbunyi pas jam 2 siang, saya pun langsung keluar kompleks istana, dan mencari angkutan umum. Waktu satu jam paling cukup untuk sampai ke hotel, pikir saya.

Tapi saya kemudian melakukan kesalahan fatal. Saya seharusnya berjalan kaki dulu ke barat kira-kira 200 meter dari benteng istana, menuju pier Tha Chang. Dari sini saya bisa naik perahu menuju Central Pier, terus nyambung naik skytrain ke stasiun Siam Central atau Chitlom, yang tak jauh dari Centara. Tapi siang itu panas sekali, dan jarak 200 meter sepertinya jauh banget, jadi saya langsung menyetop taksi.

Angkutan-umum-Sungai-Chao-Phraya-Bangkok

Angkutan umum Sungai Chao Phraya, Bangkok, bisa diandalkan kalau butuh cepat dan tidak kena macet.

Masalah mulai timbul, karena baru sekitar 1 kilometer kemudian, jalanan macet. Tampaknya si supir mengambil rute melewati Chinatown, yang di hari Minggu ini banyak orang berbelanja. Baru berjalan berapa meter, berhenti. Jalan lagi, berhenti lagi. Banyak lampu merah juga sih di sini! Saya mulai gelisah. Tapi yang tambah bikin jengkel, si supir itu memakai setiap kesempatan saat macet untuk… mencabut uban. Tentu saja ubannya sendiri.

“Ayo, jalan!” kata saya setiap dia telat menginjak pedal gas saat lampu sudah hijau, gara-gara aktivitasnya itu. Begitu terus di setiap lampu merah. Stiker ‘Allah is One‘ di dekat spion itu ternyata tak membantu saya untuk merayunya supaya lebih cepat, karena ternyata dia bukan muslim. “Jadi kenapa pasang stiker itu?” tanya saya.

“Oh, itu stiker dari supir yang sebelum saya,” jawabnya sambil lagi-lagi mencabut uban.

Dari jauh saya melihat Baiyoke Tower, yang tak jauh letaknya dari Centara. Saya sedikit tenang, karena sebentar lagi pasti sampai. Namun kemudian dia mengambil rute lain, dan kali ini bayangan Baiyoke Tower itu lenyap dari pandangan. Walah, mau dibawa ke mana nih saya?

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *