Journey, Mancanegara

Pria Telatan di Bangkok

Entah mungkin karena memang ada verboden atau bagaimana, si supir mengambil jalan memutar, lalu dia mau masuk ke jalan layang. Di sini dia kena batunya, karena dihentikan oleh seorang polisi. Baru kemudian saya tahu, ternyata polisi Bangkok bisa disuap juga. Karena begitu si supir memberi selembar uang -kayaknya cuma 20 baht atau Rp 6.000- taksi pun bisa kembali melaju.

Kali ini saya bisa melihat Baiyoke dan Centara dari atas. Ups, ternyata masih jauh, di sebelah kiri sana! Aduh mak, pasti telat nih saya! Mana jam sudah 3.15 lagi. Taksi kini melewati perempatan Ploenchit, lalu belok kiri. Tinggal dua perempatan lagi nih, yakni perempatan Chitlom, lalu Ratchaprasong, sebelum kemudian saya belok kanan sedikit dan sampai.

Tapi, ya ampun, di perempatan Chitlom saja macet sekali! Dari tadi kendaraan tidak bisa bergerak. Padahal ini sudah jam 4! Mau turun, tanggung. Tidak turun, tapi kok ya sebenarnya sudah dekat juga dengan stasiun skytrain di mana saya bisa naik kereta dan turun di Siam Center lalu jalan kaki (catatan: kalau memakai cara ini, kemudian saya tahu ternyata memakan waktu yang cukup lama. Dari Siam Center ke Centara mesti jalan kaki melewati jembatan penyeberangan yang jauhnya melebihi jembatan busway dari depan Atmajaya sampai Komdak, Jakarta, lalu melewati Centralworld).

Saya sms Pak W mengabarkan kalau saya telat, eh, tidak dijawab juga sama dia. Seharusnya dalam keadaan begini, dia balas kek, untuk sedikit menghibur saya….

Lagi-lagi, si supir melakukan kebiasaan buruknya, mencabut uban. Makanya begitu lampu menyala hijau, dia saya bentak, “Come on, move! You sh*t!

Si supir kini mulai ikut jengkel. “Iya, iya, sabar! Macet tuh!” Mungkin begitu perkataannya kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Begitu melewati samping Centralworld dan macet, saya bayar taksi, 170 baht, lalu saya langsung keluar meski taksi masih di jalanan. Setengah berlari saya memasuki Centralworld. Berdasarkan pengalaman kesasar tadi malam, saya bisa tahu jalan cepat menuju Centara.

Baru saja masuk kamar hotel, telepon berdering. Ternyata dari Mrs. J, direktur TAT ASEAN itu! “Aduh, Teguh, kamu ke mana saja? Cuma kamu dan Pak W saja loh yang tidak ikut gladi resik! Ayo kamu ke sini, saya tunggu buat foto-foto!”

Oh, sialan, ternyata Pak W telat juga toh!!! Makanya dia gak balas sms saya. Asem tenan!

Saya baru datang ke tempat acara jam 5 sore. Gladi resik sudah selesai, tapi acara resminya sendiri belum dimulai! Lagi-lagi, Mrs. J tidak marah kepada saya. Thanks Maam!

Jadi, apakah memang benar orang Indonesia selalu telat? [T]

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *