Di sini juga ada gedung resepsi dengan tempat parkirnya yang luas, serta Resto & Homestay Niwa Canting. Restonya menyediakan kopi-kopi nikmat dari berbagai daerah di Indonesia, dan menu-menu makanan khas Semarang seperti sop buntut, empal kelem, iga bakar begh, garang asem, hingga babat gongso. Ada 10 kamar di homestay-nya, yang berfasilitas ala hotel bintang tiga, dan bisa diinapi wisatawan maupun tamu khusus yang hendak belajar membatik. Travel writer atau travel blogger bisa mengajukan permohonan untuk menginap gratis di sini, asal mau ikut mempromosikan aktivitas membatik di sanggar ini.

Homestay Niwa Canting yang dilengkapi restoran (belakang). Kamar-kamarnya dinamai dengan nama motif batik.
Setiap tahun, sekurangnya sanggar ini menerima dua kali kunjungan turis-turis Belanda yang sandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dengan kapal pesiar. Juga sudah tak terhitung banyaknya pelatihan membatik untuk anak-anak sekolah maupun para perempuan di desa-desa sekitar sanggar, yang kemudian diberdayakan untuk mendukung aktivitas membatik ini. Menarik, bukan?
Waktu terbaik berkunjung:
Pagi pukul 10.00-11.00 atau siang pukul 14.00-16.00
BOKS:
Dua Festival ‘Wajib Datang’ di Semarang
Parade Malam Semarang Night Carnival

Karena festivalnya malam, siapkan lampu kilat agar memperoleh foto yang bagus.
Sejak tahun 2011, Semarang mempunyai karnavalnya sendiri yang unik dan diadakan setiap tanggal 2 Mei, yakni Semarang Night Carnival. Sesuai namanya, karnaval ini diadakan pada malam hari, dan setiap tahun mempunyai tema kostum yang berbeda. Ribuan peserta karnaval berparade mulai dari depan balaikota hingga memutari Simpang Lima. Jadi kalau ingin memperoleh foto-foto yang cantik, siapkan kamera atau smartphone yang bagus, lengkap dengan lampu kilatnya.
Dugderan
Ini adalah festival bagi yang ingin kembali ke masa kecil dan rindu keramaian pedesaan, meskipun Dugderan ini diadakan di pusat kota, tepatnya di kawasan Pasar Johar. Selama satu bulan penuh hingga menjelang hari pertama Ramadan, di area ini digelar pasar malam dengan aneka mainan tradisional seperti celengan, warak ngendog (badak bertelur), gangsingan, kapal kelotok (kapal tempur mainan berbahan bakar minyak kelapa), hingga atraksi permainan ombak banyu, komidi putar, rumah hantu, dan tong setan yang menderu-deru memekakkan telinga.

Berjibaku mengendalikan Ombak Banyu – salah satu hiburan favorit masyarakat saat Dugderan.
Sebagai penutup, di sore hari terakhir festival digelar Karnaval Dugderan, melibatkan ribuan peserta dari seluruh penjuru kota. Aneka kesenian tradisional, umbul-umbul, hingga patung raksasa warna-warni hewan imajiner seperti liong, warak, dan buraq (kuda terbang berwajah wanita cantik), bergerak mengular dari balaikota ke tujuan akhir di Masjid Agung Jawa Tengah. [T]
Semoga saya bisa balik lagi kesini. September ke Semarang cuma selfi2 gak jelas. Makasih infonya
Hahaha, selfie-selfie ya bagus laah. Ini juga tulisan dari berkunjung berkali-kali ke Semarang, jadi memang nggak cukup kalau cuma sekali doang. 😅