Banyak hotel kecil dan kafe di sepanjang jalan yang kami lalui. Lagi, bangunan-bangunannya kebanyakan dari kayu, dan bertingkat tiga atau empat. Warna-warna dinding, pintu, dan jendelanya kombinasi merah, cokelat muda, dan hijau tua.
Rumah-rumah yang Terbenam Salju
Kami mesti berjalan kaki agak menaik kira-kira sejauh 200 meter untuk sampai ke stasiun kereta gantung Grindelwald-First. Suhu yang cukup dingin sekitar 3 derajat Celsius tak begitu terasa karena saya memakai sepatu gunung dengan kaos kaki wool, celana panjang dengan bahan sintetis di lapisan dalamnya, serta jaket musim dingin dengan dua lapis bahan sintetis di bagian dalam.
Stasiun kereta gantung ini melayani rute Grindelwald ke First, lurus melewati dua stasiun antara yakni Bort dan Schreckfeld, lalu membelok ke kiri menuju First. “Waktu yang ditempuh sekitar 25 menit,” terang Pennie, yang satu kereta gantung dengan saya dan Mr. Panu, wartawan dari Bangkok. Rencananya, keluar dari stasiun First nanti kami akan berjalan kaki di atas salju, menuju platform untuk meluncur dengan First Flieger (First Flyer), yang semacam flying fox itu, terbang menuju stasiun Schrekfeld kembali.

Grindelwald saat winter. Ada untungnya nggak datang di musim seperti ini. [Dok. Jungfrau Region]
Pemandangan di sisi kiri adalah punggungan gunung yang lebih rendah, dengan pohon-pohon pinus cokelat kehitaman yang bagian bawahnya terbenam dalam salju. Rumah-rumah kayu, yang nampaknya menjadi villa atau pondokan untuk turis, bertebaran dengan jarak yang berjauh-jauhan. Hampir seluruh dinding rumah-rumah itu terbenam salju, begitu pula atapnya. Sementara tepat di bawah kami sepertinya merupakan padang rumput saat musim panas, yang kini semuanya putih diselimuti salju, hingga jauh ke bukit di ujung depan sana. Di akhir Maret ini, rupanya baru sedikit saja salju yang mencair.

Pondok-pondok wisata musim panas yang terkubur salju saat musim dingin.
Karena sama-sama berasal dari Thailand, Pennie dan Mr. Panu terlibat dalam obrolan dan tebak-tebakan yang seru, yang sayangnya, semuanya dalam bahasa Thai yang tidak saya mengerti. Jadi saya fokus saja menikmati pemandangan. Sesekali kami berpapasan dengan kereta-kereta gantung yang turun dari First. Sebagian berisi penumpang, sebagian kosong.