
Hari-hari sepi sendiri di pedesaan Swiss.
Kereta berhenti di tiap stasiun yang kami lewati: Wilderswil, lalu Zweilutschinen, Lutschental, Burglauenen, Schwendi, dan tinggal stasiun tujuan kami, Grindelwald. Salju putih semakin sering saya temui, menempel dan menutupi pohon-pohon pinus dan cemara natal. Sebagian salju sudah menghilang, meninggalkan ‘botak’ tanah hitam di bawahnya. Daun-daun masih kusam kecokelatan, dengan sebagian diselingi daun-daun berwarna hijau tua. Di belakang kejauhan sana puncak-puncak gunung di Pegunungan Alpen masih berselimut salju putih, mengepul terkena panas sinar matahari siang yang cerah.
Ada banyak puncak gunung di Pegunungan Alpen yang memagari sisi selatan Swiss yang berbatasan dengan Italia. Kalau melihat ilustrasi dari majalah Jungfrau Magazin (tanpa ‘e’) yang sempat saya comot di lobi hotel tadi, dari timur hingga ke barat sekurangnya ada 8 puncak gunung, yang kesemuanya ditutupi salju. Paling timur adalah puncak Wetterhorn, lalu Schrekhorn, Eiger, Monch, Jungfrau, Breithorn, Tschingelhorn, dan Gspaltenhorn. Kesemuanya mempunyai ketinggian di atas 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan Jungfrau menjadi puncak tertinggi, 4.168 mdpl. Mencari tahu sedang berada di bawah puncak manakah saya saat ini, terus terang membuat saya pusing karena saya masih disorientasi, ditambah terkena destination shock akibat banyaknya tawaran pemandangan yang membelalakkan mata di keempat penjuru.
Selamat Datang di Grindelwald!
Kami turun di stasiun Grindelwald (1.034 mdpl), sebuah kota kecil namun penting karena stasiun keretanya menjadi penghubung jalur-jalur kereta yang beroperasi di wilayah yang lebih populer disebut Jungfrau Region ini. Jalan-jalan di kota ini sebagian besar sudah kering, dengan jalan utamanya semakin menaik dan menghilang di kejauhan depan sana, berakhir dengan dua puncak gunung bersalju. Sepertinya puncak Eiger dan Monch.

Stasiun Grindelwald yang menjadi hub untuk berbagai destinasi di Jungfrau Region.
Sore ini kota tengah ramai oleh banyaknya turis-turis bule memanggul papan ski, dan memakai sepatu ski yang berat sehingga mereka berjalan seperti robot dengan bunyi ‘gletuk-gletuk’ saat sol sepatu beradu dengan aspal jalan. Sementara turis-turis dari Asia, yang kebanyakan dari China dan Korea, berombongan menyisir toko-toko di kedua sisi jalan. Papan ski, sepatu ski, gogles, syal, sepatu boots, jaket musim dingin, pisau-pisau lipat Victorinox, aneka merek jam tangan, sampai suvenir lonceng Swiss, berjejer di etalase toko-toko mungil berdinding kayu. Tawaran-tawaran diskonnya sungguh menggoda iman. Winter memang hendak berakhir, dan lebih baik barang-barang itu dijual sekarang dengan harga lebih murah, daripada disimpan di gudang dan menunggu setahun lagi supaya ada yang beli. Meski, kalau melihat label harganya yang dalam Franc Swiss –yang kursnya lebih tinggi dibanding dolar Amerika– cukup membuat naluri belanja jadi menurun.

Hotel-hotel bernuansa homy dan tradisional kayu banyak terdapat di Grindelwald.