Saya menuju ke barat lagi, menyusuri U Thong Road. Sekarang sudah pukul 2 siang. Aduh, mengapa waktu cepat sekali berlalu? Rasa haus kini berubah menjadi haus dan lapar, ditambah lagi kaki yang mulai pegal karena mengayuh terus. Saya melihat Wat Phuttaisawan, lalu St. Joseph’s Catedral yang ada di seberang Sungai Chao Phraya. Namun nampaknya tak ada dermaga atau jalan pintas menuju ke seberang sungai, jadi saya hanya bisa memotret dari kejauhan.

Hanya bisa melihat Wat Phuttaisawan dari jauh karena tak ada pier penyeberangan.
Kuil Paling Fotogenik
Rasa lapar yang makin terasa membuat saya mampir dulu ke sebuah restoran kecil di pinggir jalan, dan memesan sup tom yang kung, salad somtam, dan sayap ayam bakar. Untung, makanannya enak. Dengan tenaga yang baru, begitu menunjuk pukul 3 sore, saya pacu sepeda menuju Wat Chai Wattanaram. Meski jauh menyeberangi jembatan Sungai Chao Phraya, saya harus ke sini, karena kuil ini berbeda dengan kuil-kuil yang lain.

Patung-patung Buddha tanpa kepala di Wat Chai Wattanaram. Bukannya creepy tapi di sini malah bagus buat foto-foto.
Benar saja, kompleks kuil yang dibangun tahun 1630 oleh King Prasat Thong untuk merayakan kemenangannya atas Kamboja ini mempunyai prang (menara) utama bergaya Angkor, dikelilingi 8 kapel berbentuk kerucut di keseluruhan sisinya. Difoto dari mana saja, kompleks kuil ini terlihat cantik. Tak heran para fotografer menjadikan kuil ini sebagai objek foto saat sunset, ataupun sebagai tempat mengambil sunset, dengan cara naik ke undak-undakan prang utama. Tapi kalau takut ketinggian, sebaiknya tidak usah naik ke sini, karena di dalamnya juga kosong. Saya, yang bersemangat naik, begitu melihat ke bawah yang curam, mendadak jadi bingung bagaimana turunnya!

Berfoto-foto di mana saja di kompleks kuil ini hasilnya tetap cantik.
Di sisi kanan dan kiri prang ini terdapat banyak sekali patung Buddha tanpa kepala. Diduga, kepala-kepala itu dicuri orang-orang tak bertanggung jawab, ketika Ayutthaya terbengkalai dan belum direstorasi. Di pinggir sungai, terdapat patung Buddha besar, seperti tengah mengawasi kapal-kapal yang melayari Chao Phraya. Para turis yang ikut trip river cruise bisa mendarat di pier dekat kuil dan berfoto-foto.
Jam menunjuk pukul 4.30 sore. Kini saatnya saya putar balik dan mengunjungi kuil-kuil yang ada di jalur jalan pulang. Mengingat waktu yang sempit, saya memutuskan hanya akan mengunjungi Wat Phra Sri Sanphet dan Wat Phra Mahathat. Namun ternyata, jalan-jalan di bagian dalam kota ini cukup banyak. Ditambah lagi jarak yang cukup kauh –kompleks Ayutthaya ini panjang sekitar 4 km dan lebar 2 km– dan juga kurangnya papan penunjuk jalan, beberapa kali saya tersesat. Bertanya ke beberapa orang di jalan yang saya lalui, tak ada satupun yang tahu di mana Sri Sanphet.
Berbekal peta yang saya bawa, saya memakai insting saja mengikuti jalan, hingga akhirnya saya sampai ke kompleks reruntuhan yang hanya menyisakan satu prang dan patung Buddha yang tengah berbaring lurus. Letaknya di sisi jalan aspal, terbuka tanpa pagar pembatas.

Meski kesasar, saya nggak menyesal sampai ke Wat Lokaya Sutharam ini.