Wat Phra Mahathat Ayutthaya Thailand
Journey, Mancanegara

Mengayuh Ayutthaya

Membayar tiket masuk 20 baht, kompleks wat (kuil) ini tampak ramai. Begitu masuk dan berbelok ke kiri, saya sampai ke sebuah patung Buddha tidur yang berukuran besar. Berbeda dengan Buddha tidur lainnya yang matanya terpejam, di sini mata Sang Buddha terbuka.

King Naresuan Ayutthaya

Orang-orang datang untuk memberi penghormatan kepada King Naresuan, pahlawan Ayutthaya.

Berjalan lagi ke selatan, terdapat wihara dengan patung ular kobra, di mana banyak orang tengah berdoa. Dari sini pengunjung bisa ke arah barat untuk sampai ke stupa utama. Tapi saya memilih ke timur dulu, menyeberangi sungai kecil dan sampai ke sebuah gedung. Di dalamnya terdapat patung King Naresuan, yang dipandang sebagai raja terbesar di era Ayutthaya, tengah duduk dengan sikap hendak menghunus pedang. Orang-orang bersembahyang di sini. Bangunan ini ditujukan untuk merayakan kemenangan King Naresuan, yang menewaskan seorang putra mahkota Kerajaan Burma dalam perang tanding di atas gajah, saat Burma menyerbu Ayutthaya.

Wat Yai Chai Mongkhon Ayutthaya Thailand

Patung-patung Buddha dengan berbagai pose tangan memagari keempat sudut stupa utama Wat Yai Chai Mongkhon.

Wat Yai Chai Mongkhon

Stupa utama Wat Yai Chai Mongkhon, tujuan utama orang berziarah ke sini.

Ke barat, di bangunan stupa utama yang dikelilingi dua patung Buddha besar di kanan kiri, serta banyak patung lain di keempat sisi pagarnya, orang-orang berduyun naik ke dalam stupa. Ternyata, di dalamnya terdapat semacam sumur di mana pernah ditemukan patung-patung Buddha, yang kemudian dipajang di sekitar sumur ini.

Terlalu asyik memotret, tak terasa waktu hampir mendekati pukul 12 siang. Saya segera mengayuh sepeda mini lagi. Kini ke selatan, lalu ke barat, menuju Wat Phanan Choeng. Sekitar  satu kilometer kemudian, saya menjumpai kompleks kuil yang besar dan ramai, bahkan lebih ramai dari kuil pertama tadi.

Memasuki kuil yang dibangun 26 tahun sebelum Ayutthaya berdiri, nuansa Tionghoa segera terasa. Orang-orang membakar dupa dan lilin, menyematkan baht di pohon uang, dan menempelkan daun-daun emas di badan Buddha, di lorong masuk dari pintu utama. Ada patung Buddha berbadan hitam berukuran raksasa di ruang utama. Tingginya hampir mencapai langit-langit. Sayang saat ini kuil sedang direnovasi, sehingga badannya tertutup oleh palang-palang besi.

Di utara kuil utama terdapat Mae Soi Dok Mak, kuil untuk menghormati putri China yang bunuh diri di tempat ini, karena tidak disambut dengan semestinya oleh Raja Ayutthaya saat itu.

Wat Phanan Coeng Ayutthaya

‘Pohon uang’ di Wat Phanan Choeng. Sempat kepikiran, apakah ini boleh diambil?

Ada pier penyeberangan sungai di utara kuil, dan saya menyeberangkan sepeda saya dari sini. Masalah kemudian timbul. Karena perahunya kecil, bahkan sepeda mini saya tak bisa diputar saat perahu hendak merapat ke dermaga seberang. Tentu saja, saya tak bisa berjalan mundur sambil membawa sepeda, takut tercebur ke sungai!

Untung seorang remaja di pier seberang membantu saya menggotong sepeda, dan menolak ketika saya beri uang tips. Ongkos menyeberang: 4 baht. Berbekal pengalaman ini, nanti saya tak akan menyeberang lagi dengan membawa sepeda, kecuali perahunya cukup besar.

Melewati sebuah kampung, saya berbelok ke kiri saat menemui U Thong Road, dan melewati benteng Phom Phet yang tengah direnovasi. Rencananya, saya hendak menuju Wat Suwan Dararam. Namun peta yang kurang detil membuat saya tersesat, karena seharusnya dari kampung tadi saya berbelok ke kanan. Setelah bertanya ke sana-sini dan melewati jalan-jalan kampung yang sempit, saya sampai ke kuil ini dari pintu belakang. Stupa-stupanya yang berwarna putih segera membuat saya kagum, apalagi saat itu langit sedang biru cerah. Di kompleks kuil ini ada dua wihara. Penjaganya, di wihara utara, tengah tidur ketika saya masuk untuk mengagumi mural-mural di dinding, yang terutama berkisah tentang King Naresuan.

Wat Suwan Dararam, Ayutthaya

Lagi, kisah kepahlawanan King Naresuan, diabadikan dalam mural di Wat Suwan Dararam.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *