Sayang, setelah memutari bangunan tembok bata merah sepanjang 109 meter dan lebar 40 meter ini ternyata semua pintu masuknya terkunci. Mungkin karena sedang ada renovasi itu. Alih-alih, yang saya temui adalah sepasang remaja Jerman yang tengah berciuman di depan pintu masuk yang terkunci itu.

Deretan menara-menara di Kota Tua Munich.
Kekecewaan karena tak bisa melihat isi dalam Frauenkirche sedikit terobati ketika saya saya sampai kembali ke Marienplatz. Orang-orang makin banyak berkumpul, dan semua pandangan mata mengarah ke carillon, ruang kecil di banguan menara Rathaus yang letaknya berdekatan dengan patung emas Maria. Ruangan dua tingkat ini berhias 4 lonceng kecil dan 32 patung kecil dari tembaga. Kini patung-patung kecil itu bergerak menari mengikuti bunyi lonceng. Setiap pukul 11 siang, dan juga pukul 12 siang dan 5 sore (khusus Mei sampai Oktober) carillon akan berputar dan mengeluarkan bunyi. Tarian di ruang atas konon menggambarkan suasana turnamen di tahun 1568 saat perayaan pernikahan Duke William V dan Putri Renata of Lorraine. Sedangkan tarian di ruang bawah adalah copper dance, untuk memperingati berakhirnya wabah penyakit yang melanda kota ini dari tahun 1514-1517.

Pasar Malam menjelang Natal di Marienplatz. Gedung tengh adalah Altes Rathaus yang belum sempat saya kunjungi. [Dok. Muenchen.de]