Frauenkirche salah satu landmark Kota Tua Munich dengan menara bawangnya yang khas
Journey, Mancanegara

‘Gempa’ di Kota Tua Munich

Gargoyle, makhluk seram yang biasa menjadi hiasan gedung gereja

Gargoyle, makhluk seram yang biasa menjadi hiasan gedung gereja, yang banyak terdapat di Neues Rathaus. Fungsinya sebagai saluran pembuangan air hujan.

Pintu masuk ke menara pandang ternyata ada di sudut depan gereja, mengarah ke jalanan yang dipenuhi oleh orang-orang yang berderet memanjang untuk… antri. Perlu waktu hampir 45 menit berdiri hingga akhirnya sampai giliran saya untuk masuk. Ternyata tiketnya lebih murah, cuma 2 euro.

Harga tiket yang lebih murah ternyata sepadan -atau mungkin tidak sepadan- dengan perjuangan untuk sampai ke bagian pandang di lantai 14 karena di sini… tidak ada lift! Jadi yang saya dan semua pengunjung lakukan adalah menaiki tangga kayu yang sempit lantai, demi lantai. Penerangan yang agak kurang di seluruh lantai dan kayu yang kadang berderak saat diinjak membuat saya mesti pelan-pelan melangkah. Di beberapa bagian tangganya hanya bisa dilewati oleh satu orang sehingga kami mesti bergantian.

Dengan susah payah dan berkali-kali mengatur nafas, akhirnya saya berhasil mencapai lantai 11 di mana di sini terdapat lonceng gereja. Konon ada 8 lonceng besar di sini, tapi saya  tak bisa melihat semuanya karena agak gelap. Tiga lantai kemudian, sampailah saya di bagian pandang yang rupanya sesak oleh turis. Duh, bagian dinding luar menara pandang ini lantainya lebih sempit daripada di Rathaus tadi, sehingga di sini terjadi antrian juga karena pengunjung yang berpapasan bisa saling senggol.

‘Gempa’ di Gereja St. Peter

Pemandangan dari menara pandang ini sedikit berbeda karena kini saya bisa melihat Marienplatz di bawah, dan Rathaus dan Frauenkirche yang bersisian, tapi tidak signifikan. Mungkin kalau untuk melihat sunset, baru di tempat sekarang ini lebih bagus pemandangannya.

Menara pandang Gereja St. Peter Munich yang menjadi 'gang senggol' para turis

Menara pandang Gereja St. Peter Munich yang menjadi ‘gang senggol’ para turis karena sempit dan ramainya.

Saya beristirahat dengan duduk di bangku ruangan dalam menara, ketika mendadak kepala saya terasa melayang dan ruangan bergoyang kecil seperti terkena gempa bumi. Lonceng gereja berdentang-dentang keras dan otak saya segera berpikir untuk mencari apa hubungannya.

Bukan gempa bumi, ternyata. Tapi dentang lonceng-lonceng gereja yang ada di beberapa lantai di bawah saya, membuat lantai di atasnya ikut bergetar. Saya tak tahu sampai kapan lantai atas ini bisa bertahan, yang jelas saya segera turun karena perasaan saya nggak enak banget. Cukup sekali saja deh naik ke menara gereja ini, hahaha!

Meski terlihat dekat dari Marienplatz, Frauenkirche si menara bawang itu terletak di blok yang berbeda, Frauenplatz, dan perlu berjalan kaki sepuluh menit untuk sampai dan mengitari halamannya untuk mencari-cari pintu masuknya. Rasanya sayang saja kalau tidak bisa masuk ke dalamnya, karena konon gereja yang dibangun tahun 1468-1494 ini merupakan simbol Munich, dan menjadi bangunan bergaya gothic paling bagus di seluruh Jerman. Bahkan konon desain menara bawang ini -yang ditambahkan menyusul pada tahun 1525- menjadi trend di jamannya dan dicontoh gereja-gereja yang dibangun berikutnya. Di dalam gereja juga ada makam Louis IV of Bavaria dalam ruang marmer.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *