Sebenarnya di dalam istana ini ada ruang resepsi Marble Hall yang disebut-sebut sebagai the most beautiful wedding hall in the world. Sayang waktu bukanya hanya sampai jam 4 sore dan saya sudah terlambat. Tapi untunglah, air mancur patung kuda dan undak-undakan berpatung dua unicorn yang menjadi lokasi syuting The Sound of Music itu masih bisa saya nikmati sepuasnya.
Piano Masa Kecil
Kembali ke Hotel Sacher, kini mobilitas saya menjadi terhambat karena tangan saya membawa tas berisi 3 kotak Sacher Torte seberat 4 kilogram. Melihat peta, di depan hotel ini ada Mozart Residence (Mozart Wohnhaus), rumah yang juga pernah ditinggali Mozart selama beberapa tahun. Namun begitu membaca brosur di dinding dan disebutkan bahwa museum ini dan museum kelahiran Mozart (Mozarts Geburtshaus) tutup pukul 17.30, saya membatalkan diri untuk masuk dan jalan kaki kembali menuju Getreidegasse nomor 9.

Rumah kelahiran Mozart yang kuning mencolok di Getreidegasse Nomor 9.
“Anda cuma punya waktu 20 menit,” kata ibu penjaga loket museum, sambil menyerahkan tiket seharga 12 euro kepada saya yang masih mengelap peluh. Museumnya ada di lantai 1 sampai 3, sementara bangunannya sendiri berlantai enam. Gang-gang di dalam rumah dengan lantai tegel di sini sempit, hanya cukup untuk lewat satu orang. Konon bangunan ini berasal dari abad ke-12.
Rumah ini dimiliki oleh seorang pedagang saat Leopold Mozart dan istrinya Anna Maria Pertl mulai menyewa lantai ketiga di tahun 1747. Di sinilah ke-7 anak mereka lahir, namun hanya dua yang bertahan hidup, yakni Maria Anna Walburga (lahir 1751) dan Johannes Chrysostomus Wolfgangus (lahir 27 Januari 1756), yang lebih terkenal disebut Wolfang Amadeus Mozart. Leopold sekeluarga menempati rumah ini selama 26 tahun.
Sambutan pertama begitu masuk ruangan museum di lantai dua adalah sebuah dapur sempit dengan alat-alat masak dari tembaga yang dipakai keluarga Mozart dulu, serta meja-meja dan cerobong asap dari kayu. Lalu daftar silsilah keluarga Mozart, dan ini yang menarik: lukisan mengenai Mozart dari semasa kecil hingga dewasa. Di bawahnya terpajang surat-surat tulisan tangan Mozart yang rapi dan kecil-kecil, beserta terjemahannya. Di ruangan sampingnya ada lagi sebuah piano kecil yang dipakai Mozart saat dia masih kanak-kanak, partitur-partitur musik yang dia ciptakan, dan piano yang lebih besar di ruang tengah.

Menikmati lukisan dan tulisan-tulisan tangan Mozart.
Berhubung museum hendak tutup, seorang penjaga museum yang nampaknya keturunan Jepang mulai mengusir para pengunjung agar tidak berlama-lama di satu ruangan, dan ini membuat saya panik.
“Ayo, pindah ke ruang lain, masih banyak yang belum Anda lihat!” serunya. Dan ternyata yang dia katakan ada benarnya juga. Meski rumah ini kelihatan sempit dari luar, namun di dalamnya banyak ruangan. Masih ada lagi ruang kerja Mozart, sepatu dan aksesoris pakaian yang dia kenakan saat itu, lukisan-lukisan para pembesar Salzburg yang sezaman dengan Mozart, hingga maket-maket panggung pertunjukan opera. Saya baru tahu, ternyata selain seorang maestro komponis, Mozart juga banyak melakukan konser dan menggelar pertunjukan opera setelah dia pindah ke Vienna.
Museum ditutup, dan di luar hujan gerimis. Saya paksakan diri untuk berjalan kaki menuju halte bus, untuk kembali ke stasiun. Masih ada Hellbrunn Palace, serta paviliun dan rumah Tuan Von Trapp di film The Sound of Music yang belum saya kunjungi. Namun cuaca tidak memungkinkan, dan saya juga sudah capek sekali. Pukul 18.09, kereta yang membawa saya pulang ke Munich pun bergerak. Selamat tinggal Salzburg, semoga kita bertemu lagi. [T]
Catatan: Foto utama dan sebagian foto-foto di dalam artikel adalah Dokumentasi Tourismus Salzburg (salzburg.info).
Seru banget perjalanannnya.
Seru, ngos-ngosan, keringetan, bahu pegel, hahaha!
Koq saya jadi serasa berada disana yaaa…ruar biasa nih cerita Mas Teguh lengkap dan menggambarkan banget suasana disana jadi pengen ke Jerman hehe.
Saya pernah ke Viena tahun lalu jalan ke gereja St.Joseph keliling² mall sekitar sana beli parfum Lush sampai sekarang masih aweeet 😀😀😀
Memang waktu jalan-jalan ke Salzburg itu seru banget. Hampir semuanya pake jalan kaki, sampai ngos-ngosan dan kringetan juga karena mesti naik bukit ke benteng. 😂
Tapi worth it banget apalagi karena dikasih uang saku buat beli Sacher Torte. 🤩🤩
Parfum malah lupa, padahal itu favoritku jg kalo ke mana-mana oleh-olehnya parfum terutama yang travel size.
Duh wish list banget ini sih. Eropa tuh memang gampang banget bikin jatuh cinta ya Mas. Ya bangunannya, ya makanannya. Semua sepertinya perfect buat direkam kamera.
Saya loh takjub banget dengan signage besi (plang nama) toko-toko yang ada di jalan Getreidegasse. Sudahlah estetik, kombinasi warnanya juga vintage dan estetik banget. Saya mendadak dejavu pernah menemukan hal yang sama saat di Budapest. MashaAllah kenangan yang gak bakalan dilupakan sepanjang usia.
Waah di Budapest begitu juga ya plang tokonya?
Kalo jalan-jalan ke kota-kota di yurep ini kayaknya memang enak nongkrong di pinggir jalan yang antik gini sambil ngopi & ngemil kue lokal sambil liatin orang-orang pada lewat. Udah gitu aja nggak perlu ngos-ngosan naik bukit ke benteng. 😂😂