Merasa bersalah, saya pun segera menghabiskan kopi hitam itu dan beranjak meneruskan berjalan di lorong ini. Ternyata ada untungnya juga saya nggak berlama-lama di kafe, karena yang saya temui sekarang adalah jalan agak lebar yang dipenuhi para penjual sayuran dan makanan! Entah ini pasar Sabtu atau ada setiap hari, para pedagang berjejer memenuhi jalanan ini hingga ke Universitatsplatz di depan Gereja Kollegienkirche. Yang dijual mulai dari bermacam keju, roti-roti, sosis, bunga potong, sayuran kubis, artichoke, radish, bit, hingga suvenir gantungan kunci bergambar kartun Mozart.

Icip-icip sepuasnya sambil lihatin mbak penjualnya yang cantik.
Seorang gadis berambut pirang dengan wajah mirip aktris Diane Kruger menjual aneka roti tradisional dan juga keju-keju. Tendanya dirubungi para turis karena dia menyediakan tester yang bisa dicicipi semua dan sepuasnya, kalau tidak malu. Saya pun membeli roti kismis cokelat yang sudah dibungkus plastik wrap. Begitu ditimbang, beratnya hampir 1 kilo, dan harganya 8 euro. Hahah! Untung saya tadi tidak membawa Sacher Torte dulu. Kalau iya, pasti tidak akan asyik lagi jalan-jalan ini, karena saya kan juga membawa kamera DSLR.

Malaikat yang baik hati di Altermarkt.
Melewati sebuah gerbang, saya sampai ke platz Altermarkt. Platz atau plaza di sini artinya pelataran yang luas. Sepertinya di sini setiap plaza punya nama sendiri-sendiri, meskipun jaraknya hanya beberapa puluh meter saja. Yang unik di Altermarkt ini karena ada seorang ‘malaikat’ berjubah perak yang sedang berdiri melayang beberapa sentimeter dari permukaan tanah sambil tangan kirinya memegang piano. Setiap kali ada turis yang memberi uang logam, dia akan memberi sebuah kartu pos, lalu berfoto bersama sambil tersenyum, meski tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Trik mengambang ini sebenarnya sudah banyak diketahui umum (sebenarnya ada rangka besi yang menghubungkan tumpukan buku, piano, dan tangan kirinya yang tak pernah lepas) namun orang-orang tetap saja senang melihat atraksi ini.
Beberapa meter dari sini, ada lagi Residenzplatz yang lebih luas, dengan air mancur besar di tengahnya. Rupanya sedang ada pertunjukan musik tradisional Austria di panggung. Orang-orang duduk di bangku-bangku yag dinaungi kanopi sambil membuka bekal dan minum bir Kaiser yang menjadi sponsor acara musik ini.

Mozart here I come!
Kalau membelok ke kanan, sebenarnya saya akan sampai ke Salzburg Cathedral atau sering disebut Dom, dan dari sampingnya ada kereta listrik yang membawa saya ke benteng yang hendak saya tuju. Tapi karena kurang paham dengan peta yang saya bawa, saya mengambil arah yang lurus, melewati Salzburg Museum, lalu berfoto-foto di bawah patung Mozart. Duh, rasanya gimana ya, bisa mampir ke kota kelahiran Mozart!
Museum Alat Penyiksaan
Benteng Festung Hohensalzburg sudah di depan mata, namun sebelumnya saya mesti naik jalan berundak-undak yang bikin ngos-ngosan. Dari ujung jalan ini, pemandangan kota Salzburg dan gedung-gedung serta sungainya bisa dilihat dengan jelas. Terlihat bahwa gedung-gedung di Salzburg umumnya berbentuk kotak kubus dan saling menyambung satu sama lain, menyisakan gang di bawahnya sehingga orang-orang yang berjalan kaki bisa lewat.
Saya masih harus berjalan kaki lagi dan menanjak dua kali sebelum sampai ke loket karcis masuk benteng, bayar 10,30 euro. (Pengelola benteng menerapkan beberapa paket harga. Cek di sini). Lagi-lagi saya mesti berjalan menanjak, karena memang benteng ini berdiri di atas bukit yang tingginya 120 meter dari atas jalan kota. Sementara bangunan bentengnya sendiri menjulang tinggi dan luas sekali.

Sungai Salzach yang membelah Salzburg dan Festung Hohensalzburg. Nggak ngira saya bakal jalan kaki sampai puncak bukit sana.
Benteng ini dibangun oleh Archbishop Salzburg tahun 1077, sebagai upaya pencegahan kalau-kalau Heinrich IV, kaisar yang diasingkan karena berseberangan dengan gereja, kembali dan merebut tahta. Di abad-abad berikutnya, benteng ini dua kali diperluas sehingga berfungsi juga sebagai istana perlindungan yang nyaman dan mewah bagi keluarga Archbishop. Tidak heran, Hohensalzburg disebut-sebut benteng yang paling terawat di seluruh Eropa, dan menyandang status World Cultural Heritage dari UNESCO. Konon sepanjang sejarahnya, benteng ini belum pernah jatuh ke tangan musuh meski dikepung berkali-kali. Wajarlah, posisinya yang paling tinggi membuat prajurit di benteng ini dengan mudah mendeteksi musuh yang coba-coba mendekat.

Golden Chamber yang wow, salah satu koleksi Castle Museum Festung Hohensalzburg.
Halaman dalam benteng ini luas sekali, dan ada beberapa restoran serta toko suvenir. Namun daya tarik utama benteng ini adalah dua museumnya. Pertama Castle Museum yang menyajikan koleksi benda-benda dari era gothic, pistol, meriam dan peluru dari zaman dulu, pakaian para prajurit dari masa ke masa, hingga contoh kamar pengiriman sinyal Morse. Yang paling unik di sini adalah Majelica Stove yang terletak di Golden Chamber. Meski namanya ‘stove’ tapi bentuknya seperti lemari dan dipenuhi ukiran-ukiran berlapis emas.
Seru banget perjalanannnya.
Seru, ngos-ngosan, keringetan, bahu pegel, hahaha!
Koq saya jadi serasa berada disana yaaa…ruar biasa nih cerita Mas Teguh lengkap dan menggambarkan banget suasana disana jadi pengen ke Jerman hehe.
Saya pernah ke Viena tahun lalu jalan ke gereja St.Joseph keliling² mall sekitar sana beli parfum Lush sampai sekarang masih aweeet 😀😀😀
Memang waktu jalan-jalan ke Salzburg itu seru banget. Hampir semuanya pake jalan kaki, sampai ngos-ngosan dan kringetan juga karena mesti naik bukit ke benteng. 😂
Tapi worth it banget apalagi karena dikasih uang saku buat beli Sacher Torte. 🤩🤩
Parfum malah lupa, padahal itu favoritku jg kalo ke mana-mana oleh-olehnya parfum terutama yang travel size.
Duh wish list banget ini sih. Eropa tuh memang gampang banget bikin jatuh cinta ya Mas. Ya bangunannya, ya makanannya. Semua sepertinya perfect buat direkam kamera.
Saya loh takjub banget dengan signage besi (plang nama) toko-toko yang ada di jalan Getreidegasse. Sudahlah estetik, kombinasi warnanya juga vintage dan estetik banget. Saya mendadak dejavu pernah menemukan hal yang sama saat di Budapest. MashaAllah kenangan yang gak bakalan dilupakan sepanjang usia.
Waah di Budapest begitu juga ya plang tokonya?
Kalo jalan-jalan ke kota-kota di yurep ini kayaknya memang enak nongkrong di pinggir jalan yang antik gini sambil ngopi & ngemil kue lokal sambil liatin orang-orang pada lewat. Udah gitu aja nggak perlu ngos-ngosan naik bukit ke benteng. 😂😂