Mirabellgarten depan Mirabell Palace Salzburg
Journey, Mancanegara

Bertamu ke Rumah Mozart

Waduh, kalau saya bawa sekarang, bahu bisa patah nih, ke mana-mana membawa tambahan berat sekitar 4 kilo! Untungnya, toko kue ini buka sampai jam 5 sore, jadi saya hanya membeli dulu sepotong Sacher Cube (5,8 euro) yang seperti cupcake, untuk saya cicipi sambil jalan. Saya bilang akan kembali lagi nanti sebelum tutup, dan saya pun meneruskan perjalanan.

Rumah Nomor 9

Saya mengikuti saja rombongan turis Jepang yang arahnya menuju benteng di depan sana, dengan menyeberang Sungai Salzach melalui jembatan Makartsteg yang identik sebagai ‘jembatan cinta’ karena penuh dengan gembok. Nggak di Tembok China nggak di sini, para pasangan yang sedang mabuk asmara selalu punya cara untuk mengabadikan cinta mereka.

Namun begitu rombongan turis itu masuk ke sebuah gang sempit, dan wisatawan-wisatawan lain juga ikut masuk, saya mengikuti saja karena penasaran. Saya lupa dengan rencana hendak menyewa sepeda.

Makartsteg the love bridge Salzburg

Berfoto-foto di Makartsteg setelah mengikatkan gembok cinta.

Ternyata yang saya masuki adalah lorong yang menuju jalan sempit Getreidegasse yang menjadi area khusus jalan kaki dan terkenal sebagai pusat belanja. Toko-toko kecil, McD, hingga Louis Vuitton ada di sini, dengan papan-papan nama mereka yang cantik karena dibuat dari besi berornamen unik-unik, menjulur di atas kepala turis-turis yang lewat.

Yang menarik adalah toko pakaian tradisional Salzburg buat anak-anak, dan toko cokelat yang menjual Mozartkugel. Ini adalah permen berbentuk bulat yang terbuat dari kacang pistachio, marzipan, dan nougat yang disalut cokelat hitam. Permen ini mulai dibuat tahun 1890 oleh Paul Fürst, seorang pembuat permen asal Salzburg, dan awalnya dia namakan Mozart Bonbon. Bungkus luar permennya sudah pasti, wajah Mozart. Tapi ukuran permennya nggak cuma sebesar bola bekel. Ada juga Mozartkugel yang seukuran bola sepak, dan kalau membelinya –yang sudah pasti mahal– saya juga bingung bagaimana nanti membawanya, secara saya juga bakal memborong Sacher Torte.

Toko-toko sepanjang Jalan Getreidegasse berebut perhatian pembeli dengan plang namanya yang unik-unik.

Jalan ini berujung di gereja St. Blasius dan ujung satunya lagi di Rathaus alias balaikota. Di jalan ini juga terdapat rumah tempat kelahiran komposer jenius Mozart! Rumahnya yang sudah lama dijadikan museum ini bercat kuning dan terletak di Getreidegasse nomor 9. Namun sebelum sampai di rumah Mozart ini saya terbawa keinginan untuk masuk ke sebuah lorong sempit yang dipenuhi para penjual bunga dengan kafe-kafe kecil di sekelilingnya.

Aaah, kafe! Saya bisa ngopi dulu. Saya pun memesan segelas kopi hitam sambil duduk di sudut teras luar kafe Backspielhaus, lalu mengeluarkan kue Sacher Cube tadi. Tapi… baru saja segigitan mencicipi kue yang manisnya nggak ketulungan ini, si waiter menegur saya. “Sir, ini kue dari luar ya? Tidak boleh makan di sini,” dia mengingatkan. “Kalau mau kue, kami juga menjualnya. Silakan beli di dalam.” Oopss!

Standard

6 thoughts on “Bertamu ke Rumah Mozart

  1. Koq saya jadi serasa berada disana yaaa…ruar biasa nih cerita Mas Teguh lengkap dan menggambarkan banget suasana disana jadi pengen ke Jerman hehe.
    Saya pernah ke Viena tahun lalu jalan ke gereja St.Joseph keliling² mall sekitar sana beli parfum Lush sampai sekarang masih aweeet 😀😀😀

    • Memang waktu jalan-jalan ke Salzburg itu seru banget. Hampir semuanya pake jalan kaki, sampai ngos-ngosan dan kringetan juga karena mesti naik bukit ke benteng. 😂
      Tapi worth it banget apalagi karena dikasih uang saku buat beli Sacher Torte. 🤩🤩
      Parfum malah lupa, padahal itu favoritku jg kalo ke mana-mana oleh-olehnya parfum terutama yang travel size.

  2. Duh wish list banget ini sih. Eropa tuh memang gampang banget bikin jatuh cinta ya Mas. Ya bangunannya, ya makanannya. Semua sepertinya perfect buat direkam kamera.
    Saya loh takjub banget dengan signage besi (plang nama) toko-toko yang ada di jalan Getreidegasse. Sudahlah estetik, kombinasi warnanya juga vintage dan estetik banget. Saya mendadak dejavu pernah menemukan hal yang sama saat di Budapest. MashaAllah kenangan yang gak bakalan dilupakan sepanjang usia.

    • Waah di Budapest begitu juga ya plang tokonya?
      Kalo jalan-jalan ke kota-kota di yurep ini kayaknya memang enak nongkrong di pinggir jalan yang antik gini sambil ngopi & ngemil kue lokal sambil liatin orang-orang pada lewat. Udah gitu aja nggak perlu ngos-ngosan naik bukit ke benteng. 😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *