Mirabellgarten depan Mirabell Palace Salzburg
Journey, Mancanegara

Bertamu ke Rumah Mozart

Sebenarnya di seberang stasiun ini ada terminal bus, dan dari hasil menguping tadi, kita bisa membeli tiket harian seharga 26 euro agar bisa keliling ke mana saja dengan bus dan masuk tempat-tempat wisata tanpa bayar lagi. Tapi rasanya kok mahal ya. Dari membaca sebuah e-book, disebutkan bahwa Salzburg ini kotanya relatif datar dan juga bersahabat untuk pejalan kaki, jadi saya memutuskan untuk jalan saja.

Pagi ini masih sejuk dengan suhu sekitar 10 derajat celsius. Saya menyusuri jalan utama Rainerstrasse yang membentang dari depan stasiun hingga ke arah hotel yang saya tuju. Jalanan masih sepi dan toko-toko banyak yang masih tutup. Apakah jam 11 ini masih kepagian, ataukah kalau Sabtu toko-tokonya buka agak siang, saya kurang tahu. Dan benar saja, jalanan di Salzburg ini ramah banget. Begitu saya mau menyeberang jalan, sebuah bus memperlambat jalannya dan berhenti, lalu supirnya memberi isyarat tangan menyilakan saya menyeberang duluan. Danke schoen! Terima kasih banyak!

Saya melewati Mirabellplatz dengan konter-konter yang menjual paket tur. Tempat ini memang  biasa menjadi meeting point bagi grup-grup wisata yang mau mengadakan tur keliling kota. Di seberangnya ada Mirabellgarten, taman yang menjadi bagian dari Mirabell Palace, namun ini dari sisi samping luar. Mirabell Palace merupakan salah satu lokasi syuting film legendaris The Sound of Music, dan nanti saya juga harus mampir ke sini.

Mirabellgarten, Mirabell Palace Salzburg

Pintu masuk Mirabell Palace, agak menjorok ke dalam dari jalan raya sehingga bisa kelewat.

Tapi saya meneruskan langkah, lalu membelok ke kanan mengikuti petunjuk di peta. Sebenarnya setelah membelok ini saya juga melewati pintu depan Mirabell Palace, namun saya tidak ngeh karena gerbangnya agak menjorok ke dalam. Di saat yang sama, saya juga melihat bendera Hotel Sacher di depan saya, dan sebuah benteng, Festung Hohensalzburg, menjulang jauh di belakangnya, yang menjadi landmark kota ini. Tugas utama harus diselesaikan dulu.

Beli Tapi Dilarang Motret

Kafe yang menjual Sacher Torte mempunyai pintu sendiri di samping hotel, pas di perempatan jalan, sehingga turis-turis bisa mengerubungi jendela kacanya dan melihat kue-kue yang dijual. Petugasnya hanya satu, seorang wanita paruh baya berpakaian tradisional Austria. Ternyata ada tiga ukuran Sacher Torte: ukuran diameter loyang 16 cm (harga 29 euro), ukuran 19 cm (35 euro), dan ukuran 22 cm (41 euro!). Masih ada lagi ukuran Liliput dengan diameter 8 cm dan berisi 2 loyang (harga 20,5 euro). Semuanya berbentuk bulat pipih bersalut cokelat, dengan stempel ‘Hotel Sacher Wien’ di pinggirnya. Cake ini ditempatkan dalam boks kayu yang ringan tapi kokoh sehingga aman meskipun dimasukkan dalam bagasi pesawat.

Sacher Torte Hotel Sacher Wien, Salzburg

Sacher Torte ukuran paling besar, harganya 41 euro. Gimana nggak ngeces melihat cake cokelat ini. [Dok. Hotel Sacher Wien]

“Kue-kue ini tahan sampai tiga minggu,” tutur si penjaga, yang melarang saya untuk memfoto-foto. Hahah!

Teman saya pesan dua boks yang ukuran paling besar, dan saya sendiri tertarik untuk membeli yang versi Liliput. Tapi…

”Berapa berat kue-kue ini?” tanya saya.

“Yang paling besar sekitar 1,5 kilo, yang sedang 1,2 kilo, yang kecil dan Liliput sekitar 1 kilo.”

Standard

6 thoughts on “Bertamu ke Rumah Mozart

  1. Koq saya jadi serasa berada disana yaaa…ruar biasa nih cerita Mas Teguh lengkap dan menggambarkan banget suasana disana jadi pengen ke Jerman hehe.
    Saya pernah ke Viena tahun lalu jalan ke gereja St.Joseph keliling² mall sekitar sana beli parfum Lush sampai sekarang masih aweeet 😀😀😀

    • Memang waktu jalan-jalan ke Salzburg itu seru banget. Hampir semuanya pake jalan kaki, sampai ngos-ngosan dan kringetan juga karena mesti naik bukit ke benteng. 😂
      Tapi worth it banget apalagi karena dikasih uang saku buat beli Sacher Torte. 🤩🤩
      Parfum malah lupa, padahal itu favoritku jg kalo ke mana-mana oleh-olehnya parfum terutama yang travel size.

  2. Duh wish list banget ini sih. Eropa tuh memang gampang banget bikin jatuh cinta ya Mas. Ya bangunannya, ya makanannya. Semua sepertinya perfect buat direkam kamera.
    Saya loh takjub banget dengan signage besi (plang nama) toko-toko yang ada di jalan Getreidegasse. Sudahlah estetik, kombinasi warnanya juga vintage dan estetik banget. Saya mendadak dejavu pernah menemukan hal yang sama saat di Budapest. MashaAllah kenangan yang gak bakalan dilupakan sepanjang usia.

    • Waah di Budapest begitu juga ya plang tokonya?
      Kalo jalan-jalan ke kota-kota di yurep ini kayaknya memang enak nongkrong di pinggir jalan yang antik gini sambil ngopi & ngemil kue lokal sambil liatin orang-orang pada lewat. Udah gitu aja nggak perlu ngos-ngosan naik bukit ke benteng. 😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *