
Siapa sangka, untuk menonton sebuah pertunjukan jadul saja ternyata perlu nge-war tiket.
Gedung dua lantai itu tampak berbeda, meski kanan-kirinya dihimpit oleh hotel dan gedung-gedung tua di tepi Jalan Pasar Senen yang sibuk. Sebuah gunungan—lambang alam semesta dalam dunia pewayangan—bertengger di atas tulisan ‘Bharata’ yang diapit oleh dua naga. Di bawahnya, tepat di depan pintu masuk, dua patung raksasa Dwarapala memegang gada, seakan siaga menjaga gedung ini.
Saya masuk ke lobi dan disambut oleh lukisan dinding tokoh Bima sedang bertarung dengan seekor naga di tengah lautan. Ini adalah fragmen dari kisah Dewa Ruci dalam epos Mahabharata. Lukisan ini diapit oleh ondel-ondel pria dan wanita. Agak lucu, tapi mungkin ini untuk melambangkan perpaduan budaya antara Solo-Jawa—dari mana wayang orang ini berasal—dengan Betawi-Jakarta. Selepas magrib ini, lobi gedung ini ternyata sudah ramai oleh para penonton. Mereka antri di loket untuk menukar bookingan tiket dengan nomor kursi.
Saya segera masuk melewati tirai di sisi kiri gedung begitu mendapat nomor kursi. Ini adalah lorong ‘belakang layar’ di mana para niyaga atau penabuh gamelan tengah berkumpul. Mereka mengenakan blangkon, beralas kaki selop, bersarung batik, dan berbaju beskap merah. Sepertinya warna bajunya sudah berubah sedikit. Dulu merah marun, sekarang merah cerah.

Seorang niyaga dengan seragam merah khasnya.