Memang, untuk satu kali pertunjukan saja, wayang orang ini melibatkan lebih dari 100 orang, mulai dari para pemain, teknisi panggung, penabuh gamelan, penjaga loket, pemandu penonton menuju kursinya, hingga tukang parkir. Kemarin, saat saya menonton latihan untuk pertunjukan malam ini, saya melihat banyak pasangan dan anak-anak dari para pemain juga ikut hadir. Suasana kekeluargaan dan keakraban tampak sekali di antara mereka.

Sesi latihan, sehari menjelang pertunjukan.
Saat latihan itu, tiap niyaga diberi fotokopian not musik berwujud angka-angka yang saya sama sekali tidak mengerti. Skenario cerita juga tidak ditulis lengkap. Yang ada hanya ringkasan per adegan berdasarkan setting cerita, beserta ucapan atau tembang yang mesti dilantunkan oleh pemain yang mendapat peran. Semuanya diketik dalam bahasa Jawa kromo inggil alias bahasa Jawa halus yang tak saya pahami, meski saya orang Jawa.

Usia tak jadi penghalang untuk ikut melestarikan kesenian wayang orang.
Latihan juga cuma sekali. “Kalau latihan beberapa kali, berat di ongkos,” senyum Mbak Endang, staf reservasi tiket sekaligus pembagi honor untuk para pemain. Dia menyodorkan amplop sekaligus daftar nama yang mesti ditandatangani ke seorang ibu tua, niyaga penabuh saron. Saya tidak berani menanyakan besar honornya, takut menyinggung, hahaha!

Yang senior ikut membantu memakaikan kostum pemain muda.
WO Bharata memang salah satu wadah untuk nguri-uri atau merawat budaya Jawa di Jakarta, khususnya kesenian wayang orang. Berdiri sejak 1962 dengan nama WO Panca Murti, grup kesenian ini berganti nama menjadi Bharata tahun 1972, hingga sekarang. Meski rasanya seperti sudah ‘tua’ namun WO Bharata tergolong muda. WO Ngesti Pandowo di Semarang, misalnya, telah berdiri sejak 1937. Lalu WO Sriwedari di Solo telah berdiri sejak 1911. Ketiganya—yang tidak saling berkaitan—masih aktif hingga sekarang.
Sepertinya proses regenerasi berhasil di sini. Saya lihat sebagian pemain adalah anak-anak muda gen z. Mungkin mereka tadinya adalah anak-anak kecil yang berlarian tadi, yang diajak menonton latihan oleh para orangtuanya yang menjadi pemain.
Antara Balkon dan Nge-War Tiket
Menjelang pukul 8 malam, para penonton telah memasuki ruang pertunjukan. Susunan kursi-kursi di sini menaik, mirip di gedung bioskop. Ada tiga baris Kelas VIP yang paling depan dekat panggung, hanya dipisahkan oleh para niyaga. Di bagian tengah adalah Kelas I. Saya duduk di sini, di kursi D-01 yang paling pinggir kiri. Lalu di belakang-atas ada Kelas Balkon. Total ada 255 kursi.