
Anak-anak muda gen z juga banyak yang menjadi pemain di WO Bharata.
Mungkin di lain waktu saya akan menonton dari balkon saja, baris paling depan. Sepertinya dari situ lebih leluasa untuk memotret, merekam video, atau nonton sambil… makan-makan. Dulu di depan gedung ini ada penjual makanan ketoprak dan minuman dingin. Penonton bisa memesan makanan dan penjualnya akan mengantarkan sampai ke kursi. Tapi kemarin yang saya lihat hanya penjual sate ayam. Apakah dia juga melayani pesan-antar? Mungkin saya tidak melihatnya karena tadi sering memotret. Lagipula, duduk di Kelas I ini saya merasa agak canggung untuk memesan makanan. Sepertinya setiap penonton di sini memang fokus menikmati pertunjukan.

Setiap kesempatan digunakan untuk meluweskan gerakan tari.
Oh ya, pertunjukan WO Bharata ini tidak selalu berbayar, lho. Saya malah kaget ketika memesan tiket dan dibilang pertunjukannya gratis. Menurut Pak Yudhi, salah satu pimpinan WO Bharata, dalam setahun mereka mengadakan 10 kali pertunjukan gratis, disponsori oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Hanya saja, mau berbayar atau gratis, calon penonton mesti melakukan ‘ticket war’ karena tiket cepat sekali habis. Jadi, untuk memastikan supaya dapat tiket, kita mesti sering memantau skedul pertunjukannya via instagram WO Bharata di @wobharata.
Mencuri Jamus Kalimasada
Tepat pukul 8 malam, gong ditabuh tiga kali sebagai tanda pertunjukan dimulai. Setelah pembacaan singkat susunan pemain hingga sutradara, tampillah narator berpakaian wayang lengkap yang memberikan pengantar cerita malam ini, yang berjudul Kresna Kembar.
Setelah tari kipas yang enerjik dari para pemain wanita berkebaya, layar pun berganti dengan suasana di istana Kerajaan Randu Kencono. Sang raja, Prabu Kolo Randu Kumbolo yang berwujud raksasa, bermaksud mencuri pusaka Jamus Kalimasada. Pusaka ini milik Yudhistira, tokoh tertua Pandawa, dan berwujud gunungan emas kecil yang dipasang di kepala. Tujuannya, agar Pandawa nanti kalah melawan Kurawa saat terjadi perang Bharatayudha. Adik sang raja, Raden Kolo Baskoro, menyanggupi tugas mencuri itu. Untuk memperlancar aksinya, dia pun merubah wujud menjadi Kresna, penasihat para Pandawa.

Sesama Pandawa saling curiga dan berantem karena pusaka dicuri.