Palawan Crocodile Farm Puerto Princesa The Philippines
Journey, Mancanegara

Makan Buaya di Puerto Princesa

Tricycle alias bajaj yang jadi alat transportasi umum di Puerto Princesa, Pulau Palawan, Filipina

Jauh-jauh ke Palawan, Filipina, yang dicari malah yang aneh-aneh.

“Tadi ada yang jadi makan sisig buaya?”

Lawrence, sang pemandu lokal, tiba-tiba saja bertanya kepada kami. Saya pun terhenyak. Yahh, kenapa tadi saya lupa? Bukankah sebelumnya Lawrence sudah menyarankan supaya kami mampir ke kafe di dekat toko-toko suvenir?

Sayangnya mobil van yang kami tumpangi sudah agak jauh meninggalkan Palawan Crocodile Farm, jadi kalau mau balik lagi rasanya nggak enak. Apalagi rombongan kami –10 bloger dan jurnalis serta 30 travel agent– kini hendak menuju destinasi selanjutnya, Iwahig Prisoner & Penal Farm, yang masih satu jam lagi dari sini.

Mungkin kalaupun jadi bertemu yang namanya sisig buaya itu, belum tentu juga saya berani memakannya. Bukan masalah halal-haramnya ya, tapi mualnya itu lho. Cuma saya penasaran saja sih. Masa jauh-jauh datang ke Pulau Palawan di Filipina ini tapi tidak mencoba makanan khasnya. Lebih-lebih, kata Lawrence, pulau ini memang menjadi habitat kesukaan buaya.

“Sekitar 80 persen sungai-sungai di Palawan Selatan mempunyai buaya. Sedangkan di Palawan Utara, hanya 5 persen saja yang berbuaya.” Hmm, saya bisa membayangkan, pasti ngeri deh kalau mau berenang di sungai-sungai di pulau ini. Walaupun cuma 5 persen, misalnya, emang kita bisa memastikan mana sungai yang berbuaya dan mana yang tidak?

Si Baloy Crocodile Farm Puerto Princesa Palawan Filipina

Berlagak pawang, padahal moncong Si Baloy diselotip.

Tadi sebenarnya saya punya cukup waktu untuk mencoba sisig buaya itu, kalau memang saya tidak lupa. Setelah mendapat penjelasan tentang jenis-jenis buaya di Palawan, bentuk fisik dan kebiasaan hidup buaya, kami juga tur ke kandang-kandang dan kolam pembiakan buaya. Hiih, ngeri deh. Kayaknya tempat itu hanya cocok buat traveler yang punya nyali.

Kios suvenir di Crocodile Farm Puerto Princesa, Palawan, Filipina

Kenapa tadi saya nggak beli t-shirt ini ya?

Tapi saya tadi sempat juga lho, foto bareng buaya kecil, Baloy namanya. Saya mesti bayar 360 peso (sekitar Rp 108 ribu) untuk cetak 2 foto yang ukuran kartupos. Asal tahu saja, sebenarnya moncong buaya itu diikat dengan selotip bening, jadi kalau di foto tetap kelihatan natural seperti buaya yang baru ditangkap di sungai, hahaha! Tapi ya itu. Saya kok bisa ya berlama-lama menyambangi satu demi satu toko suvenir di dekat pintu keluar farm, padahal akhirnya tidak membeli apapun. Yang kafe sisig buaya itu malah lupa!

Standard