Menikmati koleksi cap batik ini satu persatu juga sepertinya perlu waktu seharian sendiri. Bukan hanya karena banyaknya, tapi juga karena setiap motif capnya itu superkeren. Kalau saya mengamati berlama-lama, mulut saya secara otomatis pasti berdecak. Koq bisa ya, dari sebuah pelat tembaga bekas, menjelma menjadi cap batik yang mengilat keemasan dengan pola-pola motifnya yang menyihir mata.
Ibu Rumahtangga yang Imajinatif
Dengan mulai belajar membatik sejak 2004 hingga sekarang ini secara teknis hampir segala sesuatu yang berkaitan dengan Semarang dan sekitarnya telah diabadikan oleh Mbak Umi ke dalam motif-motif batiknya. Ia tak hanya mengangkat ratusan cerita legenda maupun sejarah Semarang, namun juga kuliner, landmark kota, budaya, kesenian, festival, asal-usul nama daerah, dan banyak hal unik lain tentang Semarang.

Batik cap motif Urang Jinejer Tahu. Di manakah udang dan tahunya?
Sebutlah misalnya motif Tugu Muda, Lawang Sewu, Pasar Johar, Jembatan Mberok, Gereja Blenduk, yang kesemuanya merupakan bangunan-bangunan khas Semarang. Lalu motif Jatingaleh, Pandean, Peterongan, Pleburan, Watu Gong, Goa Kreo, Rowosari, Meteseh, Sendangmulyo, Rawapening, Gedong Songo, yang merupakan nama-nama tempat di Semarang dan sekitarnya. Bahkan makanan khas Semarang seperti bandeng presto, wingko babat, lumpia, roti ganjel rel, mangut, tahu gimbal, babat gongso, dan banyak lagi lainnya, bisa ia buat menjadi motif batik.
Uniknya, kalau kita mengamati motif-motif kuliner batik semarang, misalnya motif mi kopyok, urang jinejer tahu, tahu sinusur sayur, tahu petis, atau bandeng presto, semuanya sangat estetik namun tidak mirip secara harfiah dengan makanan aslinya, sehingga kita perlu waktu untuk berpikir dan mencernanya. Misalnya motif batik cap berupa lingkaran-lingkaran, yang tadinya saya kira motif klasik kawung. Ternyata ketika saya amati, lingkaran-lingkarannya itu disusun dari ikan-ikan bandeng, dan ini adalah motif bandeng presto!

Cap batik motif Jembatan Mberok. Lihat detail motifnya.
Makanya saya menyebut Mbak Umi –yang kalau berbicara suaranya lembut dan lirih– sebagai orang yang brilian. Padahal, sarjana IKIP PGRI Semarang ini sendiri bukan berasal dari keluarga pembatik. Umi baru mulai belajar membatik tahun 2004, setelah ketiga putra-putrinya besar dan ia punya banyak waktu luang.
Tahun 2005, dengan dukungan suaminya yang seorang manajer di sebuah BUMN karya, Umi memberanikan diri memberi pelatihan-pelatihan membatik untuk anak-anak sekolah dan para wanita. Lalu tahun 2006 ia mendirikan Batik Semarang 16. Nama ‘16’ ia ambil dari Surat An-Nahl (Surat Lebah), surat ke-16 dalam Al-Quran. Filosofinya tentu agar batik itu bisa menjadi manfaat bagi banyak orang.
Berkat usahanya, batik semarang yang di masa kolonial Belanda pernah sama populernya dengan batik pekalongan dan batik lasem, namun ‘punah’ di era 1970an itu kini mulai dikenal kembali.
Karya-karya Umi juga menjadi inspirasi perancang busana terkenal seperti Anne Avanti dan Lenny Agustin, dan mereka sering berkolaborasi di berbagai event fashion show. Namun hal itu tak membuat Umi tinggi hati. Setiap kali ditanya dari mana ia mendapatkan ide untuk membuat motif-motif batiknya, ia selalu merendah.
“Ah, wong saya ini ibu rumahtangga biasa koq. Jadi motif-motif batik itu ya saya buat sekenanya saja.”

Selain mencanting di sanggar, para ibu binaan ini juga bisa mengerjakannya di rumah sendiri.
Hal lain yang patut diacungi jempol adalah kegigihan Umi untuk menggunakan bahan-bahan pewarna alami. Di sanggarnya, kita bisa melihat berkarung-karung bahan pewarna dari kayu, seperti tegeran, tingi, jelawe, kulit manggis, hingga indigo. Hanya sedikit pewarna sintetis yang ia pakai. “Selain lebih ramah lingkungan, pewarna alami juga jauh lebih murah,” tuturnya.