Tak ada traveling yang lebih menyenangkan selain dari mengunjungi kebun-kebun apel dan ikut memetik buahnya.
Udara perlahan-lahan terasa makin sejuk begitu motor yang membawa saya dan Arif mendekat ke desa yang kami tuju. Saya bahkan bisa merasakan perbedaan kesejukan itu meski memakai jaket. Saya membonceng Dul, dan Arif membonceng Guguh. Mereka berdua menjemput kami pagi ini di perempatan Tumpang, 17 kilometer timur kota Malang, untuk diajak berkeliling melihat kebun apel di desa mereka, Poncokusumo.
Udara makin sejuk, karena desa yang terletak di Kecamatan Poncokusumo itu berada di ketinggian antara 800 sampai 1.100 meter di atas permukaan laut, dan menjadi desa terakhir sebelum masuk ke hutan di sisi barat Gunung Semeru. Desa ini juga menjadi jalur alternatif pendakian ke gunung tertinggi di Pulau Jawa itu, meski belum diakui oleh pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, mengingat medannya yang lebih berat.
Memasuki Desa Poncokusumo, saya merasa kagum dengan kerapian desa ini. Jalan-jalan dan gang-gang di desa ini lebar-lebar–semuanya bisa dimasuki mobil–dan rumah-rumah tertata rapi di kedua sisi jalan. Hampir di depan setiap rumah ada pohon-pohon apel. Ada yang baru berbunga, ada pula yang sudah berbuah. Tidak mengherankan, karena 90 persen penduduk di sini merupakan petani apel.
“Desa kami ini rapi, karena dulunya menjadi tempat tinggal orang-orang Belanda,” kata Bambang Mulyono, kepala desa Poncokusumo. Bahkan menurut Bambang, yang mengenalkan apel ke desa ini adalah orang Belanda, Tuan Riben, di awal tahun 1960-an. Meski, konon desa ini sudah ada sejak zaman Mataram Hindu, sekitar tahun 800 M, dan menjadi tempat Begawan Poncokusumo mengajari murid-muridnya.

Tak perlu memakai tangga untuk memetiknya.
