Kebun apel di Poncokusumo Malang
Indonesia, Journey

Hari-hari Panen Apel

“Mengapa perlu dibungkusi?” tanya saya.

“Yang dibungkus cuma apel manalagi,” jelas bapak dua anak ini. “Tujuannya supaya warnanya tetap hijau muda dan kulitnya tipis serta renyah. Kalau tidak dibungkus, warnanya menjadi kemerahan dan kulitnya tebal serta kaku, dan ini tidak disukai konsumen.”

“Lalu mengapa memakai kertas yellow pages?”

“Pertimbangan ekonomis saja. Kertas ini lebih tipis, jadi per kilonya lebih banyak isinya dibanding kertas koran. Keuntungan lain, kita tinggal menyobek saja, tidak perlu memotong-motong lagi.” Sebuah ide yang cemerlang!

Teknik menanam apel di Poncokusumo Malang

Membuang yang kecil mempertahankan yang besar.

Selama memeriksa pohon-pohon apelnya, Irwan berkali-kali memetik dan membuang buah-buah apel. Ternyata, yang dia buang adalah buah-buah yang cacat atau tidak sebesar buah-buah lain dalam satu kelompok. Menurutnya, untuk apa membiarkan buah yang tidak baik mutunya dipelihara sampai panen, kalau nanti akhirnya mesti disortir lagi dan dibuang atau dijual dengan harga jauh lebih murah?

“Saya ingin saat panen nanti tidak ada apel yang di-reject. Jadi yang saya panen itu ya yang sekarang sedang saya pelihara ini, semuanya.”

Teknik menanam apel di Poncokusumo Malang

Satu dahan saja bisa dapat 1 kilo apel.

Dia menunjukkan dahan yang keempat apelnya sama bentuk dan besarnya, karena apel yang lebih lebih kecil sudah dia buang. “Lihat, empat buah ini nanti akan menjadi apel yang besar-besar, dan satu dahan ini sudah satu kilogram sendiri.”

Dari pengalamannya, sekali panen–enam bulan sekali–setiap hektar kebunnya menghasilkan 20 ton apel. Jika 1 kilogram apel dihargai Rp 5.000, maka satu kali panen dia bisa mendapat Rp 100 juta. Dikurangi biaya produksi per hektar sekitar Rp 25 juta, Irwan mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 75 juta per hektar. Dikalikan 20 hektar yang dia miliki, dikali dua, maka dalam setahun jadinya, wohoo… besar sekali! Tak heran jika Irwan punya beberapa rumah, yang sebagian dia fungsikan sebagai homestay untuk orang-orang yang datang dan ingin belajar tentang apel.

Kami beralih ke kebun apel lain yang tengah berbunga, dan di sini saya mendapat pelajaran baru. Meski sekilas warnanya sama, tiap jenis apel ternyata mempunyai warna bunga yang berbeda-beda. Apel manalagi mempunyai bunga yang seluruhnya berwarna putih; apel rome beauty mempunyai bunga warna putih dengan nuansa pink, sedangkan apel ana, yang bunganya lebih kecil, seluruhnya berwarna pink. Cantiknya bunga-bunga ini tak heran mengundang lebah dan kupu-kupu untuk datang, dan dari sinilah terjadi penyerbukan.

Bunga apel Rome Beauty

Bunga apel Rome Beauty – cantik sesuai namanya.

Meremajakan Apel Tua

Dari kebun Irwan, kami bermaksud membeli keripik apel buat oleh-oleh. Tapi ternyata tempat pembuatan kripik apel satu-satunya di Poncokusumo ini tengah tutup, jadi kami meneruskan tur keliling Poncokusumo dengan melihat pembibitan apel. Salah satu problem utama yang kini dihadapi para petani apel di sini adalah makin menurunnya produktivitas tanaman, baik karena terjadinya perubahan iklim, menurunnya kualitas tanah, serta usia tanaman yang sudah tua.

Standard

6 thoughts on “Hari-hari Panen Apel

  1. Sayangnya saat beberapa hari lalu main ke Bromo Tengger Semeru, saya dan suami gak sempat mampir ke perkebunan apel. Padahal melewati kawasan Poncokusumo ini. Waktu itu savana di Bromo sedang kebakaran jadi wisatawan diminta untuk tidak berlama-lama.

    • Waah berarti mesti diulang lagi tuh tripnya. Aku belum pernah lihat yang kebun apel di Batu. Mudah-mudahan masih ada banyak ya jadi next time bisa diagendakan ke situ.

  2. Wah, membaca tulisan ini rasanya seperti ikut diajak masuk ke Ponokusumo, gak
    cuma menikmati sejuknya desa dan kebun apel, tapi juga mengenal orang-orang di baliknya. Saya baru tahu ada istilah ngrempesi dan ternyata perjuangan para petani apel di sana sedemikian menarik.
    Yang paling bikin saya kepikiran justru bagian tentang potensi apel yang besar, tapi produktivitasnya mulai menurun karena berbagai tantangan. Semoga semakin banyak yang peduli dan ikut menjaga potensi Ponokusumo.
    Dan bonusnya… jadi ngiler pengen makan apel langsung dari kebunnya!

  3. Hani says:

    Artikelnya infonya lengkap banget tentang apel. Kalau ke Malang, suami yg lahir & kecil di Malang, ga mau ke Batu. Batu udah rusak, katanya. Krn mindsetnya “apel Batu”, Batu banyak apelnya.
    Ternyata ada apel Malang di kebun Poncokusumo.
    Trims artikelnya…

    • Waah untung masih ada Poncokusumo ya sehingga trade mark ‘Apel Malang’ masih relevan. Semoga sekarang makin bagus, banyak homestay, jadi asik buat belajar wisata agro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *