Kebun apel di Poncokusumo Malang
Indonesia, Journey

Hari-hari Panen Apel

Kami sampai ke kebun apel Mbak Ningrum ketika panen hampir selesai. Para pemetik apel, yang semuanya laki-laki, melakukan pekerjaan dengan sangat cepat. Dengan membawa keranjang bambu kecil, satu pohon selesai dipanen hanya dalam hitungan detik. Keranjang-keranjang yang besar sudah penuh berisi apel, dan masing-masing beratnya sekitar 35 kilogram.

Panen apel di Poncokusumo Malang

Berat tapi tetap ceria karena panen yang melimpah.

Monggo mendhet, Mas (Silakan ambil apelnya, Mas),” tawar mereka. Saya, yang malu-malu, terus saja memotret.

Para pemanen lalu memanggul keranjang-keranjang itu untuk dibawa ke rumah pemilik kebun. Di sana, sudah menanti pembeli yang datang dengan membawa truk-truk. Sebelum berpisah, saya diberi satu keranjang plastik apel oleh Ningrum, yang isinya sekitar 20 buah, dan saya mencicipi satu. Kriuk!

Renyah dengan Yellow Pages

Kami menuju ke rumah M. Irwan, manajer Forum Komunikasi Petani Muda (FKPM) Desa Poncokusumo. FKPM ini wadah anak-anak muda desa yang berusaha memajukan potensi apel desa ini melalui promosi penggunaan bahan-bahan organik, membantu produksi, distribusi, dan diversifikasi produk-produk apel. Irwan, yang pernah menjadi wartawan sebuah surat kabar di Jakarta, dianggap pakar soal apel, karena dia menanam apel dengan cara yang berbeda dengan petani biasa. Bahkan dia pernah diminta menjadi konsultan oleh Kementrian Pertanian Malaysia untuk membantu para petani apel di sana. Hanya saja dia tidak mau.

Irwan, yang punya total 20 hektar kebun apel, membawa kami ke salah satu kebunnya yang ada di jalan utama sebelum masuk desa Poncokusumo. Dan kami segera melihat perbedaannya: kebun seluas dua hektar itu rapi, daun-daun pohonnya subur dan hijau, dan tanahnya terawat. Tiap pohon penuh dengan buah apel yang masih kecil-kecil. Menurut Irwan, “Satu pohon yang kecil mempunyai kira-kira 200 buah apel, sedangkan yang besar bisa sampai 400 buah apel, dengan berat sekitar 50 kilogram.”

Membungkus apel dengan kertas Yelow Pages di Poncokusumo Malang

Lebih renyah dengan bantuan Yellow Pages.

Di kebun ini, Irwan mempunyai 780 pohon apel, yang terdiri dari apel manalagi dan apel rome beauty. Apel manalagi dikenali dari warnanya yang hijau cerah dan mulus, sedangkan rome beauty berwarna hijau bersemu merah muda dan berbercak-bercak. Dua orang pekerjanya tengah membungkusi apel-apel itu dengan kertas yellow pages. Oh, kini saya tahu mengapa tadi banyak buku yellow pages bekas di rumah Irwan.

Standard

6 thoughts on “Hari-hari Panen Apel

  1. Sayangnya saat beberapa hari lalu main ke Bromo Tengger Semeru, saya dan suami gak sempat mampir ke perkebunan apel. Padahal melewati kawasan Poncokusumo ini. Waktu itu savana di Bromo sedang kebakaran jadi wisatawan diminta untuk tidak berlama-lama.

    • Waah berarti mesti diulang lagi tuh tripnya. Aku belum pernah lihat yang kebun apel di Batu. Mudah-mudahan masih ada banyak ya jadi next time bisa diagendakan ke situ.

  2. Wah, membaca tulisan ini rasanya seperti ikut diajak masuk ke Ponokusumo, gak
    cuma menikmati sejuknya desa dan kebun apel, tapi juga mengenal orang-orang di baliknya. Saya baru tahu ada istilah ngrempesi dan ternyata perjuangan para petani apel di sana sedemikian menarik.
    Yang paling bikin saya kepikiran justru bagian tentang potensi apel yang besar, tapi produktivitasnya mulai menurun karena berbagai tantangan. Semoga semakin banyak yang peduli dan ikut menjaga potensi Ponokusumo.
    Dan bonusnya… jadi ngiler pengen makan apel langsung dari kebunnya!

  3. Hani says:

    Artikelnya infonya lengkap banget tentang apel. Kalau ke Malang, suami yg lahir & kecil di Malang, ga mau ke Batu. Batu udah rusak, katanya. Krn mindsetnya “apel Batu”, Batu banyak apelnya.
    Ternyata ada apel Malang di kebun Poncokusumo.
    Trims artikelnya…

    • Waah untung masih ada Poncokusumo ya sehingga trade mark ‘Apel Malang’ masih relevan. Semoga sekarang makin bagus, banyak homestay, jadi asik buat belajar wisata agro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *