“Rata-rata usia pohon apel di sini di atas 30 tahun, bahkan banyak yang sudah 45 tahun. Padahal produksi apel paling optimum di usia 25 tahun. Setelah itu makin menurun,” jelas Irwan. Karena itu FKPM, yang tahun 2006 dan 2007 pernah menerima penghargaan tingkat nasional untuk Good Agricultural Practices, mendorong para petani apel untuk melakukan peremajaan tanaman apel.
Ternyata, pembibitan apel dilakukan dengan cara okulasi atau menempelkan tunas apel jenis apa saja, pada siling (tanaman induk) yang tak lain adalah apel liar yang banyak tumbuh di daerah Ngadas Kidul, masih satu kecamatan dengan Poncokusumo.
“Tanaman ini kami pakai karena perakarannya lebih kuat daripada pohon apel yang asli,” jelas Irwan. Setelah tunas tumbuh, batang pohon apel liar itu dipotong dan dipindahkan ke polibag, lalu setelah akarnya cukup banyak, dipindahkan ke kebun apel. Dengan dirawat, 3 hingga 4 tahun kemudian pohon mulai berbuah.

Segar merona menjelang dipanen. [Dok. M. Irwan]
Sore itu, saya dan Arif kembali ke Malang, dengan banyak sekali kesan yang kami dapat. Plus, satu kardus apel pemberian Mas Irwan, ditambah apel pemberian Ningrum tadi, yang masih memenuhi tas kamera saya. [T]
Sayangnya saat beberapa hari lalu main ke Bromo Tengger Semeru, saya dan suami gak sempat mampir ke perkebunan apel. Padahal melewati kawasan Poncokusumo ini. Waktu itu savana di Bromo sedang kebakaran jadi wisatawan diminta untuk tidak berlama-lama.
Waah berarti mesti diulang lagi tuh tripnya. Aku belum pernah lihat yang kebun apel di Batu. Mudah-mudahan masih ada banyak ya jadi next time bisa diagendakan ke situ.
Wah, membaca tulisan ini rasanya seperti ikut diajak masuk ke Ponokusumo, gak
cuma menikmati sejuknya desa dan kebun apel, tapi juga mengenal orang-orang di baliknya. Saya baru tahu ada istilah ngrempesi dan ternyata perjuangan para petani apel di sana sedemikian menarik.
Yang paling bikin saya kepikiran justru bagian tentang potensi apel yang besar, tapi produktivitasnya mulai menurun karena berbagai tantangan. Semoga semakin banyak yang peduli dan ikut menjaga potensi Ponokusumo.
Dan bonusnya… jadi ngiler pengen makan apel langsung dari kebunnya!
Iya, aku mau deh disuruh mbantuin panen apel (sambil ngunyah) asal nggak ikut mikul keranjang apelnya soale beraaatt! 😁😁
Artikelnya infonya lengkap banget tentang apel. Kalau ke Malang, suami yg lahir & kecil di Malang, ga mau ke Batu. Batu udah rusak, katanya. Krn mindsetnya “apel Batu”, Batu banyak apelnya.
Ternyata ada apel Malang di kebun Poncokusumo.
Trims artikelnya…
Waah untung masih ada Poncokusumo ya sehingga trade mark ‘Apel Malang’ masih relevan. Semoga sekarang makin bagus, banyak homestay, jadi asik buat belajar wisata agro.