Kebun apel di Poncokusumo Malang
Indonesia, Journey

Hari-hari Panen Apel

Dul menelepon seseorang, dan dia mendapat informasi bahwa pagi ini ada petani yang sedang panen apel. Kami berempat pun segera meluncur kembali memakai motor. Melewati rumah terakhir di sisi timur desa, kanan kiri kami kini hanya kebun apel dan apel. Dan ternyata pohon-pohon apel di sini tidak seperti yang saya lihat di film Cider House Rules, di mana para pemetik mesti memakai tangga karena pohon apelnya tinggi-tinggi. Di sini pohon apel tingginya hanya sekitar 2 meter, dan buah apelnya bahkan banyak yang bergelantungan di dahan yang hampir menyentuh tanah.

Kebun apel itu tak hanya di sini saja, melainkan mulai dari jalan sebelum masuk desa, hingga ke Bukit Brak di sisi timur. Dari bukit itu kita bisa melihat puncak Semeru dengan jelas. Untuk ke sana kita mesti menembus hutan pinus melalui jalan setapak.

Total luas kebun apel di desa ini sekitar 500 hektar, dan jenis apel terbanyak adalah apel manalagi yang berwarna hijau muda polos, diikuti apel rome beauty yang berwarna hijau bersemu merah jambu, lalu apel ana, royal red, apel australia, dan apel yonagi.

Ngrempesi Agar Panen Dua Kali

Kami menghentikan motor ketika melihat ada banyak orang di sebuah kebun apel yang pohon-pohonnya gundul, hampir tanpa daun. Saya kira sedang ada panen apel. Ternyata orang-orang ini sedang ngrempesi, yakni secara sengaja merontokkan daun-daun pohon apel dengan tangan, untuk ‘memaksa’ pohon apel agar menumbuhkan tunas-tunas daun yang baru. Biasanya kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan memotong tunas-tunas lama yang sudah telanjur tumbuh, agar semua tunas di kebun itu bisa tumbuh secara bersamaan.

Ngrempesi pohon apel di Poncokusumo Malang

Ikut ibu ngrempesi pohon apel. [Dok. Arif Susanto]

Teknik ngrempesi, yang diperoleh dari orang Belanda, dilakukan setelah panen apel selesai. Dengan cara ini, pohon apel itu memunculkan tunas baru, berbunga, dan berbuah lagi dengan segera. Jika di negara-negara subtropis apel hanya bisa berbuah sekali dalam setahun, maka di negara tropis seperti Indonesia–yang iklimnya tak banyak berubah–dengan bantuan proses ngrempesi ini apel bisa berbuah dua kali dalam setahun!

Untuk apel manalagi, dari ngrempesi hingga panen lagi perlu waktu sekitar 4 bulan, sedangkan apel rome beauty butuh waktu 6 bulan. Karena tiap pemilik kebun melakukan panen maupun ngrempesi tidak bersamaan, maka panen apel pun bisa terjadi di waktu yang berbeda-beda. Seperti hari ini. Di kebun ini sedang ngrempesi, di kebun lain ada yang masih berbuah kecil-kecil, dan yang kini kami tuju adalah kebun yang tengah panen.

Standard

6 thoughts on “Hari-hari Panen Apel

  1. Sayangnya saat beberapa hari lalu main ke Bromo Tengger Semeru, saya dan suami gak sempat mampir ke perkebunan apel. Padahal melewati kawasan Poncokusumo ini. Waktu itu savana di Bromo sedang kebakaran jadi wisatawan diminta untuk tidak berlama-lama.

    • Waah berarti mesti diulang lagi tuh tripnya. Aku belum pernah lihat yang kebun apel di Batu. Mudah-mudahan masih ada banyak ya jadi next time bisa diagendakan ke situ.

  2. Wah, membaca tulisan ini rasanya seperti ikut diajak masuk ke Ponokusumo, gak
    cuma menikmati sejuknya desa dan kebun apel, tapi juga mengenal orang-orang di baliknya. Saya baru tahu ada istilah ngrempesi dan ternyata perjuangan para petani apel di sana sedemikian menarik.
    Yang paling bikin saya kepikiran justru bagian tentang potensi apel yang besar, tapi produktivitasnya mulai menurun karena berbagai tantangan. Semoga semakin banyak yang peduli dan ikut menjaga potensi Ponokusumo.
    Dan bonusnya… jadi ngiler pengen makan apel langsung dari kebunnya!

  3. Hani says:

    Artikelnya infonya lengkap banget tentang apel. Kalau ke Malang, suami yg lahir & kecil di Malang, ga mau ke Batu. Batu udah rusak, katanya. Krn mindsetnya “apel Batu”, Batu banyak apelnya.
    Ternyata ada apel Malang di kebun Poncokusumo.
    Trims artikelnya…

    • Waah untung masih ada Poncokusumo ya sehingga trade mark ‘Apel Malang’ masih relevan. Semoga sekarang makin bagus, banyak homestay, jadi asik buat belajar wisata agro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *