Di Pasar Setan terdapat tiga patok batu tempat sesajian, yang ada di sisi barat, tenggara, serta utara. Juga ada tempat pemancangan bendera, yang biasa dipakai para pendaki untuk upacara memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus di sini. Tapi sekarang tiang benderanya tidak ada. “Terus, di mana puncak Sundoro?” tanya saya.

Batu penanda Pasar Setan di puncak Sundoro.
“Ya ini, puncaknya!” teriak Adi. “Kawahnya di depan sana, di balik gerumbul pohon-pohon itu!” Saya melihat jam, ternyata sudah jam 10 pagi. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga!
Cuaca mendung, sehingga pandangan ke semua arah kurang begitu baik. Kalau cerah, di sebelah utara kita bisa melihat Laut Jawa, di sebelah timur Gunung Merapi dan Merbabu, di sisi tenggara Gunung Sumbing, dan di sisi barat Gunung Slamet. Namun ini tak mengurangi kegembiraan saya. Saya berlari melewati padang kecil rumput kering, melewati banyak pohon bunga edelweis di kiri-kanan, dan sampai di gerumbul pepohonan di depan.
Kawah Sundoro membentang di bawah, berupa cekungan sedalam kira-kira 100 meter dan membentuk lubang memanjang dari barat laut ke tenggara. Di dasar kawah yang tidak aktif ini terlihat tanah lapang, yang saat musim kering dipakai pendaki untuk berkemah atau bermain bola. Saat musim hujan, kawah ini berubah menjadi danau.
Kami tidak turun ke dasar kawah karena mendung mulai menebal. Sebentar lagi pasti hujan, pikir saya, jadi kami mesti cepat-cepat turun dari puncak. Lagipula, kami tidak menemukan rombongan pendaki lain, meski ini hari minggu. Ataukah mereka sampai puncak lebih dulu, dan sudah turun?

Kawah Sundoro yang sedang kering. Berani turun? Tentu saja tidak. [Dok. Arif Susanto]
Beberapa kali saya dan Arif jatuh terduduk akibat terpeleset saat menginjak tanah berdebu di atas batu yang kami injak, tapi kami terus berjalan karena kabut tebal yang menyelimuti kami berubah menjadi gerimis. Kami juga harus menemukan kembali tas yang kami tinggal di tempat kami tidur. Untungnya, dengan instingnya yang kuat sebagai orang gunung, Adi berhasil menemukannya kembali.
Gerimis dan kabut tebal kemudian menjadi hujan lebat, dan Arif basah kuyup karena dia tidak membawa jaket hujan. Ditambah lagi karena tidak makan nasi sejak tadi malam, Arif tampak lemas dan kuyu. Namun kami harus terus berjalan, di perjalanan turun yang ternyata seperti tak habis-habisnya. Saya sendiri heran, mengapa saya bisa berjalan sampai sejauh ini.

Perjalanan turun yang seperti tak ada habisnya.
Melewati Pos IV, kami mendengar suara azan dari masjid di desa bawah, pertanda hampir mendekati jam 3. Kalau diteruskan berjalan sampai rumah Pak Amin, pasti kami akan kehabisan waktu. Arif pun mengontak Pak Bukhori dan Pak Budi untuk menjemput kami di Pos III. Untunglah, keduanya sudah standby di rumah Pak Amin, dan mereka langsung bergerak dengan motornya.
Kami akhirnya sampai kembali ke kebun teh, dan begitu bayangan Pos III tampak di kejauhan, kami pun semakin mempercepat langkah. Selamat tinggal, Sundoro! [T]