Pak Amin menasihati, kalau mendaki Sundoro, jangan pernah mengeluh, karena nanti akan dipanjangkan rutenya dan makin lama sampai ke puncak. Kalau menemui binatang apapun selama pendakian, jangan diganggu. “Kalau mendengar suara aum harimau, jangan panik atau lari! Sebab itu sebenarnya suara dari gua tempat orang bertapa. Tidak semua pendaki bisa mendengar aum atau melihat orang yang bertapa. Hanya orang tertentu saja.” Kami, tentu saja memperhatikan betul apa yang beliau ucapkan, karena kami juga ingin menghormati kepercayaan masyarakat setempat dan tidak ingin celaka.
Sayang sekali, Pak Amin tidak mau menjadi pemandu kami, untuk pendakian yang rencananya kami lakukan besok malam. Arif, yang pernah mencapai puncak Gunung Semeru, menyarankan saya untuk mendaki malam hari karena menurutnya tidak panas, jadi kami tidak cepat capai dan haus. Setelah kami bujuk-bujuk, akhirnya Pak Amin mengizinkan putranya, Adi, menjadi pemandu kami.
Adi adalah seorang bapak muda yang baru berumur 22 tahun, hampir separuh usia saya. Sewaktu masih bersekolah di Wonosobo, karena kehabisan uang saku, akhirnya dia mendaki Sundoro dari Kledung Pass, lalu turun ke Sigedang. Waktu yang dibutuhkan? “Naik 4 jam, turun 3 jam,” senyumnya bangga. Namun yang lebih gila lagi adalah cerita Adi tentang seorang temannya yang mendaki Sundoro dari Kledung Pass dan turun ke Sigedang dengan mengendarai… sepeda motor! “Tentu saja setelah turun, motornya jadi berantakan, hahaha!”

Saya dan Adi (belakang), si pemandu bersandal jepit.
Besok paginya saya dan Arif membeli penutup kepala serta jeriken plastik untuk diisi air, karena di rute pendakian nanti tidak ada sumber air. Jam 6 petang, kami sudah duduk lagi di rumah Pak Amin, menunggu jam pemberangkatan, jam 10 malam. Karena saya bukan pendaki, Adi akan memilih cara mendaki yang ‘sangat santai sekali’, dan jam 10 diambil dengan perhitungan dalam 8 jam kami sudah mencapai puncak dan melihat sunrise.
Kebetulan, di rumah Pak Amin ada rombongan pendaki dari Karawang yang baru saja turun dari Sundoro. Terdiri dari 5 orang anak muda yang sebelum mendaki Sundoro sudah terlebih dahulu mendaki Sumbing, untuk naik Sundoro mereka perlu waktu 6 jam dan turun 3 jam. Saya pun menghibur diri, bahwa saya pasti bisa sampai puncak. Kalaupun perlu waktu 8 jam untuk naik dan 5 jam untuk turun, itu sudah sangat bagus.
Lupa Kompor
Tanpa banyak persiapan, saya, Arif, dan Adi berangkat begitu waktu menunjuk pukul 10 malam. Saya hanya membawa backpack berisi kamera, sebotol air, serta jaket hujan. Arif hampir sama, minus jaket hujan. Adi-lah yang membawa dua jeriken berisi 10 liter air, beberapa macam cemilan, mi instan, serta kopi.
Melewati jalan desa, lalu jalan utama yang beraspal, langit gelap tanpa bulan, namun cukup cerah karena terlihat bintang di langit. Udara yang dingin menjadi tidak begitu terasa karena kami berjalan. Namun jalan yang menanjak kemudian menghentikan langkah saya untuk istirahat dulu mengatur nafas. Adi, yang hanya memakai sandal jepit, hanya tertawa.
Kami mengambil jalan pintas dan kini memasuki kebun teh. Headlamp saya nyalakan, dan baru kemudian kelihatan debu beterbangan dari jalan setapak yang Adi lewati, sehingga saya mesti menutup hidung.
Kami akhirnya sampai di Pos I, di dalam kebun teh, sebuah bangunan beratap yang cukup luas, berlantai semen. Saya mengatur nafas, sambil melihat lampu-lampu rumah di Desa Sigedang sana. Kami kemudian sampai di Pos II, yang juga masih di dalam perkebunan teh, berupa bangunan tanpa atap. Lalu Pos III, juga masih di kebun teh. Kali ini posnya agak besar, seperti gudang, dan beratap.
Untuk sampai ke pos ini bagi saya sebenarnya bukan hal yang mudah. Dari tadi saya sudah berhenti beberapa kali. Tidak saya kira, ternyata baru sampai sini saja sudah capek. Sempat terpikir, saya akan sampai di pos ini saja, biarlah Adi dan Arif yang melanjutkan pendakian. Tapi kok rasanya malu.
Berjalan kembali, kebun teh kini sudah berganti menjadi padang alang-alang. Jalan menaik, tapi masih cukup landai. Lampu-lampu di desa yang ada di sisi barat, di Dataran Tinggi Dieng, memberi hiburan tersendiri. Tadi kami melihat hanya satu kelompok lampu saja. Semakin berjalan naik, desa-desa yang kami lihat semakin banyak. Ada satu desa yang posisinya tinggi sekali. Kami masih harus mengangkat kepala untuk melihat lampu-lampunya.