Gunung Sumbing dan Gunung Sundoro dari perkebunan tembakau Temanggung
Indonesia, Journey

Surviving Sundoro

Sudah terengah-engah mendaki, dan akhirnya Cungur Petruk kini di sisi kiri-bawah kami, tanda-tanda puncak gunung belum terlihat juga. Setiap kali saya bertanya, “Masih jauh?”, Adi menjawab, “Sebentar lagi. Itu, di atas puncak pepohonan.”

Pendakian Gunung Sundoro

Kalau awan ada di bawahmu berarti kamu sudah mendaki cukup tinggi.

Kemudian saya tahu, ternyata Adi hanya menghibur saya. Logikanya, karena gunung itu ketika ke atas makin mengerucut, maka saat mendaki, kita tidak akan bisa melihat bagian puncaknya, kecuali kita sudah sampai di puncak! Saat masih di tengah perjalanan, yang terlihat hanya langit di atas pepohonan, dan itu yang dibilang Adi sebagai puncaknya. Sungguh terlalu.

Pasar Setan

Matahari mulai terasa hangat, ketika akhirnya kami sampai ke sebuah batu besar, yang menurut Adi sebagai ‘batu penanda’ kami hampir mencapai puncak. Awan-awan putih tampak di bawah tempat kami berdiri. Kali ini mungkin dia benar, karena di sekeliling kami hanya ada rumput ilalang, pohon cantigi yang berbuah kecil-kecil dan bisa menjadi pengganjal perut bagi pendaki yang kehabisan bekal, serta tumbuhan senduro alias edelweis jawa. Banyak gerumbul tumbuhan primadona gunung ini tengah berbunga hijau kekuningan, dengan baunya yang harum lembut.

Padang ilalang di Gunung Bromo

Arif mencari sedikit hiburan dengan berfoto-foto di padang ilalang.

Tanaman edelweis makin banyak kami temui, dan saya makin bersemangat, meski saya akhirnya baru sampai di sebuah dataran rata satu jam kemudian. Inilah tempat yang disebut Pasar Setan. Disebut demikian, karena di malam tertentu, jika pendaki sampai ke sini malam hari, seringkali terdengar bunyi ramai seperti orang sedang bertransaksi di pasar, meski tidak tampak satu orang pun. Itu sebabnya masyarakat lokal menganggap, yang sedang bertransaksi adalah para setan.

Buah cantigi di Gunung Sundoro

Buah cantigi, boleh dimakan saat darurat.

“Tapi,” kata Adi, “di saat malam 1 Syura, tempat ini berubah menjadi pasar manusia, karena banyak peziarah datang ke sini untuk berdoa dan mencari berkah. Para pedagang kaki lima juga berjualan sampai ke sini, mencari rezeki dari orang-orang yang berdoa!” Saya hampir saja tertawa, kalau tidak ingat bahwa bagi sebagian orang, bisa saja tempat ini dianggap sakral.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *