Kami sampai di Pos IV, berupa bangunan berdinding anyaman bambu, beratap rumbia, dan berlantai tanah. Kata Adi, ini pos terakhir, dan setelah ini jalan mulai menanjak. Kami beristirahat sebentar, menyalakan api dari kayu-kayu sisa, dan membuka bekal. Saat itulah kemudian Adi sadar kalau dia lupa membawa panci dan kompor parafin! Berarti tidak akan ada sarapan mi instan dan kopi panas besok pagi….
Sudah dua jam dari kami berangkat, namun kata Adi ini baru seperempat perjalanan. Jadi kami berjalan lagi, dan saya makin sering berhenti untuk mengambil nafas. Di sekeliling jalan setapak yang kami lalui hanya ada ilalang setinggi paha, serta satu-dua pohon yang cukup besar dan tinggi. Tampaknya pohon-pohon tinggi ini dibiarkan sebagai penanda jalan. Lainnya berupa pokok kayu dan batang pohon-pohon yang sudah mati akibat ditebangi. Kalau mendaki siang hari pasti panas, karena tidak ada tempat untuk bernaung.

Daun tempat serangga kawin massal. [Dok. Arif Susanto]
Desa di Dieng yang kelihatan tinggi tadi, lama-lama kelihatan makin rendah, dan kini tampak sama tingginya dengan tempat kami berdiri. Untunglah, cuaca kali ini cukup bersahabat. Menurut Adi, kadang terjadi angin dan hujan badai di Sundoro ini. “Satu-satunya cara kalau itu terjadi, kita mesti berlindung di ceruk-ceruk tanah.”
Sunrise di Lereng
Tak terasa jam sudah menunjuk pukul 4 pagi, dan menurut Adi, kami baru mencapai separuh jalan. “Tampaknya kita tak akan bisa menikmati sunrise di puncak.” Okelah, tidak apa-apa, pikir saya. Tadi saya sudah hampir menyerah, tapi toh akhirnya sampai ke sini juga. Yang penting sampai ke puncak, tapi tak perlu harus saat sunrise.
Rasa kantuk membuat saya memutuskan untuk istirahat. Adi mencari tempat yang agak datar, menutupinya dengan rumput-rumput kering, lalu menggelar sarung di atasnya untuk alas tidur. Sebagai selimut, sleeping bag Arif kami pakai untuk bertiga, tidur berimpitan. Saya langsung pulas.

Sunrise yang keburu terbit saat di tengah perjalanan. Tetap indah meski tidak dari puncak.
Entah sudah berapa lama saya tidur, tiba-tiba Adi membangunkan saya. “Mau lihat sunrise?” Oh, tentu saja! Ternyata sekarang jam 5.30, atau sebenarnya saya baru tidur satu setengah jam! Hari sudah terang tanah, dan semburat matahari merah tampak di sisi timur laut kami. Jadi sudah pasti kami tak bisa mengejar sunrise dari puncak gunung. Namun melihat matahari merah perlahan-lahan muncul dari samping Gunung Ungaran di kejauhan sana, sudah cukup membuat hati senang. Mungkin itu sebabnya orang mau mendaki gunung. Sunrise dari ketinggian ternyata berbeda dengan jika melihatnya dari pantai atau dataran rendah.
Bias sinar matahari akhirnya menerangi juga desa-desa berkabut di Dataran Tinggi Dieng, dan kami mulai bisa melihat jelas Gunung Rogojembangan di kejauhan, yang bentuknya menyerupai bangunan Candi Borobudur. Kami sarapan seadanya, dan begitu mendengar raung sirine pabrik teh di bawah sana, sebagai penanda pukul 6.30 pagi, kami meneruskan pendakian. Saya meninggalkan tas dan isinya, dan hanya membawa kamera saja. Satu jeriken air juga ditinggalkan, untuk meringankan beban.
Jalur pendakian kini berganti menjadi tanah yang berbatu-batu, dan makin menanjak. Mungkin dulu jalur ini merupakan aliran sungai. Pohon-pohon menyerupai lamtoro berjejer di kiri-kanan. Yang disayangkan, terlihat juga bekas-bekas pohon ditebang, yang menunjukkan bahwa para pencari kayu sampai juga ke tempat setinggi ini.

Dataran Tinggi Dieng di pagi hari dan desa-desa terlihat bertebaran di sana-sini.
Di atas kami ada tonjolan bukit mengarah ke utara yang berbentuk seperti hidung. Itu, kata Adi, dinamakan Cungur Petruk (hidung Petruk), mengacu pada nama seorang punakawan yang berhidung panjang dalam epik Bharatayuda. “Kalau kita sudah melewati itu, berarti kita sudah mendekati puncak.”