Kalau suka mempelajari bebatuan gunung, jangan lewatkan Karst Cave, sebuah gua di gunung dengan bebatuannya yang unik, di jembatan penghubung menuju Ice Palace. Tapi karena sudah kelamaan di dalam perut gunung es, saya pun menggigil, dan satu-satunya pelarian adalah naik lift menuju resto Berghaus. Sembari menikmati minuman cokelat panas, dari balik jendela saya bisa memantau cuaca di luar. Air dingin menetes satu-satu dari pucuk-pucuk es runcing yang menempel di atap resto. Saat cerah, langit pun membiru dan puncak Jungfrau terlihat mengepul. Orang-orang sibuk berfoto-foto di plateau.

Menikmati patung-patung, sembari menyesap minuman penghangat di Ice Palace. [Dok. Jungfrau Railway]
Paspor Khusus Jungfraujoch
Badan sudah hangat kembali, dan dengan naik lift untuk ke atas, saya sampai ke teras stasiun pengamatan cuaca, dengan kubah Sphinx di atas saya. Saat cuaca cerah, Aletschgletscher yang putih kebiruan memanjang sempurna hingga jauh sekali. Biasanya, kita juga akan bisa melihat orang-orang tengah berjalan seperti semut di punggungan sampingnya, menikmati hangatnya matahari. Namun saat cuaca berubah buruk, hujan salju bisa turun dan pemandangan sekeliling berubah menjadi kelabu. Tapi di saat ini pula datang burung-burung hitam dengan paruh kuning seperti gagak, terbang dan bertengger di pagar-pagar besi teras, bahkan kadang mau hinggap di tangan turis yang memberi makanan.

Burung-burung hitam datang ke Sphinx Terrace saat hujan salju. Mungkin mereka juga kedinginan.
Saya turun kembali dengan lift untuk menghangatkan badan yang menggigil dan ingus meleleh. Meski memakai pakaian musim dingin lengkap, orang tropis rasanya memang tak akan tahan di area itu lebih dari 10 menit, karena suhunya bisa mencapai -9 derajat celsius. Saya mampir ke toko suvenir untuk membeli syal, kupluk, dan kartupos. Tak lupa, saya meminta Jungfrau Railway Centenary Passport untuk kemudian saya stempel sendiri. Ceplok! Saya pun punya bukti kalau saya sudah pernah berkunjung ke Jungfraujoch.

Memotret Aletschgletscher dari Plateau, dengan puncak Jungfrau mengepulkan salju di atas kepala.
Dari balik kaca, cuaca di luar berangsur-angsur cerah kembali. Langit kini membiru lagi, dengan puncak Jungfrau yang masih mengepul dan salju putih berkilau-kilau di bawahnya. Namun saya tak bisa keluar lagi ke sana, karena kereta pulang sudah datang. Ah, saya akan merindukan tempat ini. [T]
Alhamdulillah.. Sy jg sdh prnah ke Jungfrau pd Okt 2022 yg lalu. Tp seneng jg membaca cerita andaππΌππΌππΌ
Waah keren. Mborong cokelat Lindt juga dong ya di situ?