Christ Churcj di Melaka Malaysia
Journey, Mancanegara

Semalam di Melaka

Ketika Belanda mengambil alih Melaka, gereja ini diganti namanya menjadi St. Paul Church, yang sekaligus juga berfungsi sebagai benteng, dengan dibuatkannya tempat-tempat meriam dan mesiu di beberapa bagian gereja. Di masa berikutnya, gereja ini diubah menjadi kompleks pemakaman para bangsawan Belanda di Melaka. Di belakang gereja ini ada kompleks pemakaman kecil, salah satunya makam Jan Van Riebeck yang pernah menjadi gubernur Melaka dan juga pendiri komunitas Belanda di Cape of the Good Hope di Afrika Selatan.

Jonker Street

Melewati Jembatan Tan Kim Seng dari Dutch Square, sampailah saya ke Jonker Street alias Jalan Hang Jebat. Jalan yang ditandai dengan monumen berbentuk kapal untuk memperingati 608 tahun pelayaran Cheng Ho ini merupakan kawasan pejalan kaki yang paling ramai di Melaka. Keramaian makin bertambah saat Jumat, Sabtu, dan Minggu malam karena diadakan pasar malam di jalan yang sempit ini. Di siang hari pun, jalan yang kedua sisinya dipenuhi toko-toko mungil menjual aneka suvenir, kafe-kafe, restoran, dan pedagang makanan ini ramai oleh para pengunjung. Terlebih karena mobil-mobil diperbolehkan masuk ke jalan ini, membuat keriuhan makin bertambah.

Jonker Street Melaka

Jonker Street yang riuh ramai, terlebih di saat weekend.

Saya sempat masuk ke restoran Bistro 1673 yang dikelola keluarga peranakan. Pizza homemade buatan mereka terkenal enak. Namun saya hanya bisa tersenyum saat membaca menu-menu makanan camilan, yang ternyata tidak ada bedanya dengan cemilan di Indonesia: kue lapis, kue talam, kue ubi kayu, dan minumannya… es cendol.

Menara Taming Sari

Ini juga salah satu pusat keramaian yang tak jauh dari Dutch Square. Tepatnya, di samping Stadion Dataran Pahlawan. Diluncurkan tahun 2008, menara dengan lantai putar melingkar ini mempunyai ketinggian 110 meter. Dengan naik Taming Sari (menaratamingsari.com) kita bisa melihat keseluruhan kota Melaka, karena ketika bagian bulatan menara ini naik, ia juga sambil berputar sehingga pengunjung yang duduk di dalamnya bisa melihat pemandangan 360 derajat kota Melaka. Dari sini kita juga bisa tahu bahwa sebagian wajah kota Melaka mulai dipenuhi bangunan-bangunan modern, mulai dari Hotel Hatten, Hotel Equatorial, Stadion Dataran Pahlawan, dan ruko-ruko di pinggir pantai. Laut, pulau-pulau di sekitar Melaka, pelabuhan, hingga bagian depan Christ Church juga terlihat.

Menara Taming Sari Melaka

Menara Taming Sari, melihat Melaka 360 derajat.

Sekali naik, menara putar ini bisa memuat 66 penumpang, dan lama dari naik hingga turun lagi 7 menit. Menara Taming Sari buka dari pukul 10 pagi hingga 11 malam (weekdays) dan pukul 9 pagi hingga 11 malam (weekend), dengan harga tiket 23 ringgit.

River Cruise

Menikmati Melaka dengan ikut river cruise (melakarivercruise.my) akan memberikan pengalaman tersendiri, terutama jika dilakukan malam hari. Rute awalnya dari Jeti Muara di belakang Royal Navy Museum, tak jauh dari replika kapal Portugis. Lokasinya hanya beberapa puluh meter dari Clock Tower. Perahu motor yang dilengkapi empat baris tempat duduk itu diawaki seorang pengemudi dan seorang pemandu tur. Beruntung sekali kalau kita mendapat pemandu yang berpengalaman dan humoris seperti Bernard Goonting (55 tahun) yang mengaku sudah menjadi pemandu selama 42 tahun. Artinya dia sudah memandu sejak usia 13.

River Cruise Melaka

River Cruise yang mesti dicoba, terutama saat malam hari.

Mula-mula kita akan melewati Jembatan Tan Kim Seng yang menghubungkan Jonker Street dan Dutch Square, terus ke Padang Nyiru di mana kita bisa melihat Gereja St. Francis Xavier dengan dua menaranya yang bergaya Gothic. Lalu melewati jembatan Kampung Jawa dan Jembatan Hang Tuah yang berdekatan dengan Pirate Park dengan Eye on Melaka.

Di kedua sisi sungai rumah-rumah berjejer dengan rapi, dan juga di kedua sisi sungai hampir semuanya sudah diaspal jadi sangat nyaman untuk berjalan-jalan ataupun bersepeda. Hal lain yang mengesankan, saat perahu melewati bawah jembatan-jembatan ini, suara si pemandu menjadi bergema karena dipantulkan dinding-dinding jembatan. Di saat yang sama, kita bisa mendengar bunyi cericit banyak sekali burung Indian Myna yang suaranya mirip burung walet, meski kita tidak tahu mereka sedang bertengger di mana.

Kemudian kita akan melewati Kampung Morten yang rumah-rumahnya semua bergaya Melayu dan berwarna cokelat muda. Rumah-rumah yang berjejer rapi di pinggir sungai ini banyak dipakai sebagai homestay. Cruise berakhir di Jeti Taman Rempah, dan perahu kemudian berbalik lagi ke Jeti Muara. Namun sebelum berbalik, Bernard mengucapkan ‘Selamat Tinggal’ dalam berbagai bahasa. Yang membuat saya tertawa, ternyata ucapan selamat tinggal dalam bahasa Indonesia adalah ”Daaahhh!”

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *