Setelah menjadi museum, bangunan ini menyimpan koleksi benda-benda bersejarah sebelum masa kesultanan hingga sekarang. Di antaranya kostum-kostum dan kerajinan yang dibuat oleh orang Portugis, Belanda, Melayu, dan China, termasuk sebuah lemari belanda yang terbuat dari kayu hitam dengan ukiran lambang VOC. Juga kamar pengantin bergaya China, kostum pengantin, sampai porselen-porselen yang antik dan indah.
Yang agak disayangkan, sekarang Stadhuys sedang direnovasi dan para pedagang kakilima yang semula menempel di dinding bangunan ini bergeser memenuhi halaman Christ Church sehingga agak merusak pemandangan, terutama bagi yang mau berfoto-foto. Hal lain yang agak mengganggu adalah banyaknya bus dan mobil wisata yang memasuki jalan-jalan di depan Dutch Square. Sepertinya akan lebih menyenangkan kalau area ini dikhususkan untuk wisata jalan kaki.
Christ Church Melaka 1753
Gereja yang menjadi landmark Melaka ini juga berwarna merah salmon, dan merupakan gereja Protestan yang dibangun Belanda tahun 1741, namun butuh 12 tahun untuk menyelesaikannya. Yang unik adalah tempat Injil-nya yang terbuat tahun 1771 dari kuningan, sedangkan lonceng gereja dibuat tahun 1608 dan sebelumnya menjadi lonceng di gereja lain. Di atas altar tergambar adegan Makan Malam Terakhir yang disusun dari tegel-tegel berglazur. Beberapa bagian lantainya dibuat dari batu nisan yang masih dihiasi tulisan Portugis dan Armenia.
Gereja ini menjadi gereja Anglikan sejak Inggris menguasai Melaka tahun 1795, hingga sekarang. Ratu Elizabeth II dan keluarganya pernah menghadiri kebaktian di gereja ini saat mereka mengunjungi Melaka tahun 1972. Sekarang gereja ini menerima kunjungan para wisatawan namun dibatasi hanya dari pukul 09.00 sampai 17.00.
Clock Tower dan Air Mancur Ratu Victoria
Di depan Christ Church berdiri sebuah menara jam, yang dibangun tahun 1886 oleh Tan Jiak Kim sebagai penghormatan kepada ayahnya, Tan Beng Swee. Yang disebut terakhir ini adalah seorang tokoh Melaka yang menghibahkan 62 hektar tanahnya untuk dijadikan pemakaman China di Jelutong, yang masih ada sampai sekarang. Jam aslinya dibuat di Inggris, namun tahun 1982 diganti dengan jam dari Jepang sebagai peringatan saat masa penjajahan Jepang tahun 1942-1945.
Berdampingan dengan menara jam ini adalah Queen Victoria Fountain yang terbuat dari marmer Inggris. Air mancur ini dibuat tahun 1904 oleh masyarakat Melaka untuk memperingati Diamond Jubilee Ratu Victoria dari Inggris, yang berkuasa dari tahun 1837 hingga 1901.
Porta de Santiago
Benteng ini dulu merupakan bangunan yang paling mencolok di masa pendudukan Melaka oleh Portugis (1511-1641), dan menjadi bagian dari bangunan benteng yang disebut Aforteleza. Dibangun oleh Alfonso d’Albuquerque tahun 1512, benteng ini dibuat dari batu laterit dan mortar, berbentuk pentagon dan mempunyai tinggi 20 feet dan tebal 8 feet.

Porta de Santiago yang masih tersisa dari Benteng A Famosa.
Benteng ini digunakan Portugis untuk menahan serangan dari Sultan Melaka maupun tentara Aceh. Saat perang dengan Belanda, benteng ini mengalami kerusakan parah namun kemudian diperbaiki oleh Belanda, terlihat dari adanya logo VOC dan tulisan ‘Anno 1670’ di bagian atas gerbang benteng.
Saat Inggris mengambil alih Melaka tahun 1795, mereka berniat merubuhkan benteng ini dan memindahkan pusat perekonomian ke Penang. Tujuannya, kalau ada yang menyerang dan menguasai Melaka, mereka dengan mudah bisa merebutnya kembali. Namun atas perintah Sir Thomas Stamford Raffles yang menjadi gubernur jenderal Inggris di Singapura, bagian gerbang benteng ini, yang disebut A Famosa, tetap dipertahankan sebagai monumen.
St. Paul’s Hill
Tepat di belakang benteng ini, di sebuah bukit kecil yang menjadi titik tertinggi di kota Melaka, berdiri reruntuhan gereja St. Paul. Bangunan yang tiga perempat bagiannya tidak beratap ini –kecuali di bagian belakang yang ada bekas makam St. Francis Xavier– dipenuhi dengan batu-batu nisan besar yang bersandar ke dinding.
Gereja ini dibangun tahun 1521 oleh Duarte Coelho dan didedikasikan sebagai Church of Our Lady of the Hill, setelah dia selamat dari serangan bajak laut di Laut China Selatan. Penginjil St. Francis Xavier berdiam lama dan memberikan khotbah di gereja ini pada tahun 1545. Ketika dia meninggal tahun 1553, jenazahnya disemayamkan di gereja ini dari 22 Maret 1553 hingga 11 Desember 1553, sebelum kemudian dipindahkan ke Goa, India. Sebuah patung pualam St. Francis didirikan di depan reruntuhan gereja ini pada tahun 1953.
Ada cerita unik mengenai patung ini. Tahun 1614, Paus di Roma meminta tangan kanan St. Francis dipotong dari jasadnya, dan dikirim ke Roma untuk diabadikan. Konon, saat pergelangan tangan itu dipotong, darah mengucur deras meskipun St. Francis sudah meninggal sekitar 62 tahun sebelumnya. Setelah Sr. Francis dinobatkan sebagai Santo pada tahun 1622, potongan tangan tersebut tinggal tulang-belulang saja. Namun jasad yang ada di Goa masih utuh sampai saat itu.
Tahun 1952, Uskup Macau memutuskan untuk membuat sebuah patung St. Francis Xavier di depan Gereja St. Paul. Sebuah patung pualam dipesan dari Italia dan dipahat oleh pematung terkenal G. Toni dan sudah siap untuk peringatan 4 abad misi Francis Xavier pada 22 Maret 1953. Namun di malam sebelumnya, terjadi hujan lebat dan sebuah pohon tumbang menimpa patung tersebut. Patung itu masih utuh, namun anehnya pergelangan tangan kanannya putus. Sampai sekarang patung itu masih berdiri di depan Gereja St. Paul.