Saya masuk ke rumah berikutnya yang lebih luas. Tiga wanita sedang memotong-motong dan menyortir ikan mentah, sementara empat wanita lainnya mengasap ikan di dua ruangan terpisah. Sebagian ikan yang diasap adalah ikan pari. Potongannya lebih tebal dibanding potongan ikan patin di rumah Pak Saad. Berbeda dengan mangut pari yang sering saya temui, yang kadang agak berbau pesing, mangut pari di sini tidak berbau. “Kalau berbau, artinya ikannya sudah tidak segar sewaktu diasap,” jelas Ibu Sunar, yang mengasap berdua dengan Mbak Kusyanti.

Rela bermandi asap setiap saat meski upahnya tak seberapa.
Sepertinya mereka juga akan bekerja sampai malam, karena masih banyak ikan yang belum diasap. “Hari ini sekitar 1 ton ikan yang diasap,” tutur Ibu Sunar, yang membuat saya kaget membayangkan banyaknya.
“Berarti nanti ada uang lemburnya dong?” saya memancing.
“Ah, sudah biasa Mas, nggak ada lembur-lemburan,” jelas wanita berusia 60 tahun ini. Ia mengaku sudah menjadi tukang mengasap ikan selama 30 tahun. Gajinya tidak dibayar bulanan atau mingguan, tapi sehari sekali, kalau bos pemilik rumah pengasapan ini ada di Bandarharjo. Kalau sedang tidak di sini ya, kadang gajian 2 atau 3 hari sekali.
Berapa gaji pengasap ikan per hari? Ternyata hanya… Rp 35 ribu!
Hari sudah sore, dan badan saya sudah bau ikan asap. Jadi saya tak meneruskan ke rumah-rumah pengasapan yang lain, tapi kembali ke rumah Pak Saad. Budi sudah pergi duluan, jadi tinggal saya dan Bowo. Ia masih asyik ngobrol dengan ibu-ibu di sini.

Kampung Mangut Bandarharjo terus mengepul hingga malam.
Kami pun berpamitan, dan tak lupa saya memborong ikan mangut. Dengan Rp 30 ribu, saya mendapat 1 kilo daging mangut campur, dan 10 potong mangut kepala. Kami lalu pulang dengan mengambil rute berbeda, menyeberangi jembatan merah tak jauh dari sini. Dari seberang sungai, tampak deretan cerobong asap dari rumah-rumah itu tak henti mengepul, asapnya kecokelatan tertimpa sinar matahari sore. [T]
BOKS:
Cara Gampang ke Bandarharjo
Sentra Pengasapan Ikan Bandarharjo bisa dicapai melalui beberapa rute. Bisa dari Jalan Mpu Tantular dekat Stasiun Tawang, atau dari Jalan Arteri Utara. Namun yang paling mudah dari Jalan Hasanuddin. Kalau dari Tugu Muda tinggal mengikuti Jalan Imam Bonjol, lalu belok kiri masuk ke Jalan Hasanuddin, lurus hingga menemui Jalan Hasanuddin Kecil di sisi kanan. Ikuti jalan ini sampai bertemu jembatan merah di atas Sungai Semarang. Cerobong-cerobong rumah pengasapan ikan akan terlihat dari sini.

Seperti tengah berada di Zaman Revolusi Industri.
Dengan banyaknya penerbangan pagi ke Semarang dari Jakarta, berkunjung ke Bandarharjo bisa dilakukan untuk trip 1 hari. Siapkan diri saja untuk berbecek-becek, dan juga sediakan pakaian pengganti karena setelah dari sini pasti pakaian akan bau ikan asap.