Rumah pengasapan ikan Pak Saad ini terdiri dari 3 ruang. Ruang tengah adalah yang tadi saya masuki. Di sini, Ibu Sriatun dan Ibu Endang mengasap bagian ekor dan daging yang berdekatan dengan bagian sirip, yang mengandung banyak minyak. Hasil mangutnya pun cokelat berkilat-kilat. Di ruang timurnya ada 3 ibu yang mengasap bagian daging ikan: Ibu Diati, Ibu Yamiroh, dan Ibu Izroa. Mereka menangani sekitar 10 tungku. Di sini juga sama berasapnya, namun mereka masih bercanda-canda saat saya foto. Yang saya ketahui kemudian, ternyata mengasap ikan itu tidak butuh waktu lama, tapi hanya 10 menit. Cukup membolak-balik 2 kali setiap sisi, ikan pun matang. Mangut yang matang ditandai dengan warnanya yang cokelat muda, dan daging yang kering, tidak terasa berair.

Mengasap ikan tak perlu waktu lama makanya para pekerja mesti cekatan.
Saya memencet-mencet sepotong mangut patin dan mencium-cium baunya. Dagingnya terasa padat dan baunya segar tanpa tercium bau amis. “Ini sudah matang, atau mesti dimasak lagi supaya matang?” saya setengah bimbang.
“Itu sudah matang beneran, bukan setengah matang. Kalau tidak matang, besok mangut itu akan busuk. Coba saja dicicipi, jangan dicium-cium saja,” gurau Ibu Yamiroh. Saya mencuil satu potong mangut, dan mencicipinya. Benar, ikan mangut ini sudah matang dan gurih. Kulitnya terasa pahit sedikit, tapi ini akan hilang ketika mangut digoreng lagi atau diolah menjadi sayur. Sepotong mangut itu pun sukses masuk perut saya.

Bagian ekor mangut matang berkilat-kilat karena keluar minyaknya.