Batok-batok kelapa ini sendiri berasal dari limbah yang dihasilkan pedagang kelapa di Pasar Peterongan, yang diantarkan ke Bandarharjo oleh tukang becak. Satu karung batok kelapa harganya Rp 15.000. Arang kelapa sisa pengasapan juga tidak terbuang sia-sia. Para pengasap menjemurnya di halaman rumah. Nanti para tukang sate akan berdatangan untuk membeli. Lumayan, satu kilo arang kelapa bisa dijual Rp 3.000. Dan sepertinya usaha pengasapan ikan ini tengah ramai, karena saya lihat banyak arang kelapa tengah dijemur.
“Alhamdulillah, permintaan mangut sedang bagus. Hari ini kami mengolah 5 sampai 6 kuintal ikan. Kadang bisa sampai 8 kuintal,” tutur Pak Saad.
Wah, banyak sekali, pikir saya. “Menjadi berapa potong mangut itu, Pak?”
“Wah, ya ndak kehitung Mas. Yang jelas banyak sekali!” tawanya. “Makanya kami kadang kerja dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam.”
Pak Saad tidak perlu menjual langsung ikan-ikan itu ke pasar, karena nanti ada tengkulak yang mengambil. Tengkulak ini menjual sebagian mangut itu ke pengecer-pengecer kecil di pasar-pasar tradisional di Semarang, seperti Pasar Bulu, Karangayu, Peterongan, Jatingaleh, dan sebagainya. “Sebagian lagi dijual ke pasar-pasar di Mranggen, Demak, Ungaran, sampai Ambarawa,” tutur bapak yang sudah 8 tahun menggeluti usaha pengasapan mangut ini.
Dari Pak Saad, harga jual ikan mangut itu Rp 30 ribu per kilo, berisi sekitar 30 potong mangut. Artinya kurang lebih 1 potong Rp 1.000. Bagian kepala, karena dagingnya lebih sedikit, dijual Rp 20 ribu per kilo. Si tengkulak biasanya menjual lagi ke pedagang eceran Rp 2.000 per potong, dan sampai ke konsumen Rp 2.500 per potong.
Dulu di kampung ini ada sekitar 80 rumah pengasapan ikan. Sekarang tinggal separuhnya saja, karena sebagian sudah menutup usahanya beberapa tahun lalu saat permintaan mangut lesu. Saya lihat di sini ada 55 cerobong, dan hanya beberapa saja yang tidak berasap.
Menurut Pak Saad, ada salah satu tetangganya di deretan rumah ini yang mengasap ikan pari. Jadi saya pun berpindah ke rumah pengasapan lain, yang cuma beberapa meter saja jauhnya karena rumah-rumah ini berdempetan.

Untuk mengasap ikan tongkol ternyata perlu membungkusnya lebih dulu dengan kertas minyak.
Saya mampir ke rumah Ibu Kandar, yang tengah mengasap ikan tongkol di beranda rumahnya. Karena tidak memakai cerobong, asap pun menyebar kemana-mana. Yang membuat saya tertarik, saat diasap itu, ikan-ikan tongkol sebesar lengan itu dibungkus dengan kertas minyak. Tujuannya ternyata agar kulit ikan itu tidak mengelupas karena lengket ke ram kawat. Saat mulai matang, warna kulit ikan yang tadinya putih abu-abu pun berubah menjadi keemasan berkilat-kilat. Sungguh cantik. Lalu ikan-ikan itu disusun dalam keranjang bambu, dengan ekor menghadap ke atas. “Per ekornya dari saya Rp 8 ribu,” jelasnya. “Nanti sama pedagang dijual lagi Rp 10 ribu.” Ia bergeming saat ada seorang tetangganya yang datang dan menawar ikan asapnya Rp 5 ribu per ekor.

Warna keemasan tongkol asap membuat mata dan perut jadi lapar.