Menjelang senja, kami ke Pulau Manuk, pantai di sebelah barat sebelum masuk hutan Desa Sawarna. Di depan pantai ini ada sebuah pulau karang tempat burung-burung singgah. Meski mendung menghalangi sunset, saya beruntung bisa memperoleh gambar orang-orang yang sedang memancing dan menjala ikan di pantai.
Gua Lauk Tanpa Ikan
Suara ayam berkokok membangunkan kami, pertanda pagi datang lagi. Kami pun kembali mengejar sunrise. Kali ini bukan ke pantai, melainkan ke persawahan di atas sebuah bukit kecil. Pantai Ciantir di belakang kami, di depan kami persawahan luas yang menghijau, salah satu sudutnya berujung di belakang rumah Kang Hendi.
Tampaknya ini lokasi yang bagus, karena kami kembali menikmati matahari yang besar muncul dari sela-sela pohon jati. Dan ketika saya, Sisca dan Lia mengambil jalan pulang melintasi persawahan, keindahan yang lain kami temui. Saat berjalan melewati pematang sawah, beberapa kali kami hampir terpeleset. Maklum, orang kota! Ketika berhenti sejenak di sebuah dangau bambu di tengah sawah, kami sempat ngobrol dengan Bu Aminah yang tengah menyiangi sawahnya. “Dua bulan lagi datang ke sini ya, bantu Ibu panen,” tawarnya.

Kesibukan Bu Aminah di pagi berkabut tipis.
Sehabis sarapan, Kang Hendi menawarkan dua pilihan: menikmati Gua Lalay yang dekat, atau ke Gua Lauk yang lebih jauh. Saya mengambil pilihan kedua, karena Gua Lalay—gua kelelawar—sudah sering dikunjungi orang, sementara Gua Lauk—gua ikan—belum banyak yang tahu. Kali ini kami dipandu Kang Endam serta Kang Ibro, adik Kang Hendi. Mereka sudah siap dengan dua lampu petromaks untuk penerangan di dalam gua nanti.
Kami naik mobil dulu hingga ke ujung timur desa, lalu didrop di jalan kampung yang menjadi akses menuju gua. Mula-mula kami melewati rumah-rumah kampung dengan halaman dipenuhi pohon-pohon mangga. Jalan yang kami lalui terus menurun. Perginya mudah, tapi nanti pulangya pasti ngos-ngosan, pikir saya.

Alhamdulillah, sawah masih membentang luas di Sawarna.
Ternyata trekkingnya lama sekali. Kami sudah melewati tegalan sawah, menyeberangi sungai, naik bukit, melipir saluran air, tapi belum sampai juga. Untung pemandangan yang kami lalui semuanya memanjakan mata. Bukit-bukit yang menghijau, burung-burung prenjak ramai bercicit, air yang mengalir bening, serta sawah-sawah dengan padi menguning. Dan ada satu lagi. Saat kami baru lepas dari perkampungan tadi, kami bertemu seekor anjing kecil, yang meski diusir, tetap saja mengikuti rombongan kami. Imel pun menamainya si Brownies, meski warna kulitnya tidak cokelat gelap.
Hampir satu jam kami trekkking. Setelah melewati saluran air yang pinggirnya cuma selebar 20 sentimeter, kami tiba di mulut Gua Lauk. Mulut gua ini dibendung, di bawahnya ada kincir air yang memutar generator, menghasilkan listrik untuk penduduk desa yang tak jauh dari gua. Kang Endam masuk dulu ke gua sambil membawa petromaks, sementara Kang Ibro memandu kami satu persatu. Ternyata air di mulut gua itu tingginya sepinggang! Tapi karena Kang Endam bilang aman, kami masuk ke gua, dengan rasa penasaran menggelayut di benak kami.
Lampu-lampu senter dan headlamp segera kami nyalakan untuk membantu menerangi gua yang gelap, dan… barulah kami bisa melihat langit-langit gua yang cukup tinggi, dipenuhi stalaktit-stalaktit cantik berbentuk seperti jarum-jarum. Dinding gua sebagian dipenuhi bermacam bentuk stalaktit. Ada yang berbentuk sulur-sulur panjang seperti payung. Saya hanya menjumpai sedikit stalagmit—batu kapur di lantai gua yang terbentuk dari tetesan air kapur—karena gua ini merupakan sungai bawah tanah. Kemungkinan stalagmit-stalagmit itu terkikis oleh aliran air. Jadi selama menyusuri gua ini, kaki kami terus terendam air, yang kadang berpasir, kadang berlumpur. Untunglah, tinggi airnya yang paling dalam hanya sepaha. Sementara, bagian lantai gua yang tak terkena air berupa tanah lempung yang licin sekali.

Tanpa petromaks, gelap gulita di dalam gua.