Sawarna, Banten
Indonesia, Journey

Renjana Sawarna

Di sinilah sensasinya. Kami bergegas mencebur ke kolam itu, lalu berlarian ke balik halaman batu untuk melihat ombak yang menghantam pagar karang. “Hati-hati, jangan naik ke pagar karang, nanti jatuh!” Kang Hendi mengingatkan Sisca dan Lia.

Batu Tanjung Layar Sawarna

Berani naik hingga ke puncak batu Tanjung Layar?

Memang, meski ombak itu sudah terhalang oleh pagar karang pertama, namun sisa hempasannya kadang masih terlalu kuat menabrak pagar karang kedua, sehingga orang yang berdiri di atasnya bisa terjatuh dan lecet-lecet. Jadi, berfoto-foto di area ini antara excited dan takut-takut. Makanya begitu ombak menghempas, yang difoto segera menjerit, sedangkan fotografernya segera lari menyelamatkan kameranya! Riak air sisa hempasan itu lalu menggenangi seluruh pelataran batu raksasa, begitu terus berulang-ulang.

Dua teman saya, Agil dan Arif, masih meneruskan sesi foto-fotonya. Kali ini Lia naik ke salah satu batu layar. Cuma ia tak berani naik lebih tinggi hingga ke puncaknya, takut nantinya tidak bisa turun.

Memang, awal ‘ditemukannya’ Sawarna juga dari kegiatan anak-anak muda yang suka panjat tebing, tahun 1996. Mereka memanjat batu ini, tapi salah satu peserta tak bisa turun, sehingga teman-temannya minta bantuan penduduk desa. Kang Hendi-lah yang datang. Dari sinilah, Sawarna, 12 km sebelah timur kota kecamatan Bayah, mulai dikenal para penyuka jalan-jalan.

Tahun 2000 pemerintah Kabupaten Lebak menetapkan Sawarna sebagai desa wisata. Akses jalan menuju desa ini dipermudah, baik yang melalui rute Jakarta-Pandeglang-Bayah maupun Jakarta-Cibadak-Cisolok. Cuma, hingga sekarang masih sulit menemukan angkutan umum. Jalan menuju ke pantai juga hanya bisa diakses dengan berjalan kaki dan melewati jembatan gantung. Kadang ini ada untungnya juga, karena lingkungan tidak rusak dan suasana pantai masih asri serta sepi.

Karang penahan ombak di Pantai Tanjumg Layar, Sawarna

Hati-hati, jangan nekat menantang ombak yang menghantam pagar karang.

“Yuk, sekarang kita ke Pantai Legon Pari,” ajak Kang Hendi. “Di sana pantainya juga bagus dan landai.” Kalau ia tidak mengingatkan kami beberapa kali, pasti kami tidak mau beranjak dari Tanjung Layar ini. Setelah menikmati irisan mangga manalagi yang dibawa Kang Hendi, kami pun berkemas. Kali ini kami akan trekking menyusuri pantai, ke timur menuju Legon Pari.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *