Sawarna, Banten
Indonesia, Journey

Renjana Sawarna

Hmm… sepanjang jalan, sambil menikmati debur ombak yang tertahan karang di kejauhan, saya tak henti-henti berdecak kagum saat menjumpai pantai-pantai yang sepi, dengan batu-batu karang unik berserakan di mana-mana. Salah satunya, gugusan karang putih yang disebut Karang Bodas. Tak jauh dari sini, kami menemukan banyak karang yang menyerupai deretan gigi. “Makanya disebut Karang Gigi,” terang Kang Hendi. Kami cuma bisa tertawa.

Pantai Tanjung Layar di kejauhan.

Selamat tinggal Tanjung Layar, kami menuju Legon Pari.

Kami mampir ke sebuah kebun kelapa di pinggir pantai. Seorang lelaki tengah memetik kelapa. Ia tidak memanjat pohonnya, melainkan cukup menaruh clurit di ujung bambu yang ia sambung-sambung, lalu ia pakai untuk mengait buah kelapa. Dua belas kelapa muda segera jatuh, dan dahaga kami pun terpuaskan.

Kolam Air Panas Alami

Setelah trekking hampir satu jam, dan kami mulai kepanasan, dari kejauhan kami melihat air laut yang menjorok ke utara, membentuk sebuah teluk, dan berakhir di sebuah pantai berpasir putih dengan beberapa perahu berjejer: Pantai Legon Pari! Karena teluknya seperti membentuk laguna, pantai ini sering diplesetkan menjadi Lagoon Pari.

Pantai Legon Pari, Sawarna

Cerianya anak-anak Sawarna di Pantai Legon Pari.

Sisi barat pantai sepanjang 200 meter ini dibatasi karang-karang berlumut hijau yang cantik. Di sisi timur berupa tanjungan yang disebut Karang Cinini. Nah, di antara kedua pantai inilah, terdapat pantai pasir putih yang landai dan berpasir lembuuut… sekali, yang ternyata sudah dikuasai anak-anak kecil yang tengah bermain selancar!

Mereka menggunakan sepotong kayu atau stirofoam sebagai papan luncur. Keceriaan mereka pun menjadi hiburan kami, yang lahap menyantap makan siang dengan lauk pepes ikan kue dan tumis kangkung. Cuma kali ini sambalnya ada tiga macam: sambal tomat, sambal jahe, dan sambal terasi.

“Wah, sambalnya top!” puji Arif yang kepedasan. Begitu suap terakhir selesai, ia pun meloncat dan ikut bermain selancar bersama anak-anak kampung itu. Lia dan Sisca yang mulai terkantuk-kantuk terbuai angin pantai akhirnya terlelap di balai-balai bambu di sebuah saung.

Saya, Irwan dan Liana berjalan menyusuri pantai ke timur, dan begitu pantai membelok ke selatan, kami menemukan ‘surga’ yang lain. Pantai di pojokan ini berkarang-karang, namun karang-karang itu beralur membentuk kolam-kolam kecil yang sambung-menyambung. Karena letaknya sedikit lebih tinggi dari permukaan air laut, maka air yang sudah terperangkap di kolam-kolam ini suhunya lebih hangat. Jika datang ombak yang cukup tinggi saja, air di kolam-kolam ini sebagian diganti oleh air laut yang lebih dingin.

Begitu kami bertiga masuk ke dalam kolam-kolam itu, rasanya… ahhh, hangat sekali! Rasa capek dan pegal sehabis trekking pun langsung hilang, berganti perasaan relaks dan nyaman. Kami jadi berlama-lama berendam di sini, sambil memandang ombak di kejauhan. Rasanya seperti tengah berendam di infinity pool sebuah resor mewah di Bali! Sayang sekali, teman-teman yang lain tak ada yang menyusul ke sini. Jadi, hanya kami bertiga yang mengetahui kolam-kolam ‘rahasia’ ini.

Kolam-kolam air hangat di Pantai Legn Pari, Sawarna.

Rasanya seperti berendam di pemandian air panas alami.

Kami pulang ke rumah Kang Hendi melalui rute lain: berjalan kaki lagi selama 45 menit melewati kebun kelapa, bukit, kebun mangga, sawah, kampung, dan jembatan gantung berisi anak-anak kecil berloncatan ke Sungai Cisawarna. Kami akhirnya sampai ke jalan beraspal, lalu menyeberangi lagi jembatan gantung, sebelum sampai ke rumah Kang Hendi.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *