Pasir putih yang lembut, ombak yang berdebur kencang, dan gua yang menantang, semuanya ada di sini.
Matahari belum lagi muncul dan mata masih terasa berat akibat kurang tidur di perjalanan selama 7 jam semalam. Tapi suara debur ombak di pantai sana, dan keinginan untuk melihat sunrise yang indah, menarik-narik saya dan beberapa teman untuk terus menyusuri jalan-jalan tanah di ujung Desa Sawarna ini.
Pantai Ciantir yang saya tuju pun kini membentang di hadapan saya. Di arah kiri, perahu-perahu nelayan rapi berderet. Di sisi kanan saya hingga jauh sekali ke kanan sana, terbentang pantai yang sepi. Di depan sana, kabut putih seperti mengepul di atas ombak yang berdebur-debur, sehingga menambah suasana mistis pagi ini.
Maklumlah, pantai di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten ini terletak di tepi Samudera Hindia, daerah kekuasaan Nyai Loro Kidul. Untungnya, pantai ini berbeda dengan Pelabuhan Ratu yang berjarak 80 kilometer ke timur. Pemandu kami, Kang Hendi, bilang bahwa di sini tidak ada pantangan memakai baju warna hijau pupus, warna kesukaan Sang Ratu. Maksudnya ‘kesukaan’ itu, si pemakainya bisa-bisa diambil Sang Ratu untuk dibawa ke kerajaannya, dan tidak pulang lagi.
Mentari yang hangat mulai muncul dari balik pohon-pohon kelapa. Kabut laut sedikit demi sedikit terusir, dan warna pasir pantai yang semula abu-abu kini menjadi krem. Tidak saya sangka, matahari pagi ini besar sekali, tidak seperti yang biasa saya lihat di kota. Mungkin itulah salah satu daya tarik yang membuat para penyuka traveling datang ke sini.
Ketika mentari beranjak naik, suguhan menarik lainnya muncul. Bukan cuma sarapan kami yang sudah diantar ke saung di pinggir pantai, namun juga pulangnya para nelayan yang sudah melaut semalaman. Sambil menyantap nasi uduk dan sambal jahe buatan istri Kang Hendi, saya mengamati satu per satu perahu nelayan muncul dari balik ombak. Anak-anak kampung dan para pembeli ikan mulai berdatangan ke pasar ikan kecil di dekat saung.

Para tenaga pendorong perahu, upahnya ikan.
Yang menarik bukan ikannya—sekarang ini musim ikan cucut, tenggiri, tongkol, kue, dan kakap merah—tapi pada proses mendorong perahu-perahu itu supaya mendarat agak jauh dari pantai dan tak kena hempasan ombak. Perlu banyak orang untuk mendorongnya, termasuk anak-anak. Mereka ternyata datang untuk menjadi tenaga bantu dorong. Sebagai imbalannya, masing-masing mendapat 2 ekor ikan kecil. Sisca, teman saya yang penasaran, ikut membantu mendorong perahu, dan segera saja badannya keringatan dan menyerah. “Aduh, berat banget!” teriaknya.
Dua laki-laki bule, yang ternyata dari Jakarta, melintas dengan papan-papan selancarnya, menuju ke barat, ke pantai yang lebih sepi. Lokasi itu memang favorit para peselancar, karena ombaknya tinggi dan pantainya landai tidak berkarang. Namun kami tidak akan ke sana, melainkan ke arah sebaliknya, ke timur menuju pantai Tanjung Layar.
Menantang Debur Ombak
Seandainya Sawarna hanya punya satu pantai, Tanjung Layar ini, saya tetap akan datang ke sini dan datang lagi. Sebab pantainya simply superb! Dua batu raksasa berbentuk seperti layar kapal berdiri menjulang di atas ‘pelataran’ karang hitam yang datar dan luas, terpisah sekitar 50 meter dari pantai, sehingga seolah-olah batu raksasa ini ada di tengah kolam. Di balik kedua batu ini, ada dua lapis pagar karang, yang melindungi batu raksasa ini dari hempasan ombak yang datang tanpa henti.
