
Selain terkenal sebagai pusat batik, Trusmi juga menyimpan keindahan lain yang menunggu untuk ditemukan.
Kalau saja siang itu saya tidak diantar Mas Komar membonceng motornya dan berkeliling ke jalan-jalan dan gang-gang di Desa Trusmi Wetan, Plered, Cirebon, saya mungkin tak akan tahu bahwa selain menjadi desa batik, desa ini juga salah satu sentra lukisan kaca. Tapi, berbeda dengan para seniman batik yang memajang dan menjual kreasi batiknya di butik-butik di jalan utama desa ini, para seniman kaca mesti menunggu pembeli setianya–yang umumnya para kolektor lukisan–untuk mampir ke rumah-rumah mereka yang sederhana dan tersembunyi di belakang gang-gang sempit.

Hanya hitam dan putih, tapi mendetail sekali.
Mas Komar mengantar saya ke rumah Raden Sugro Hidayat, salah satu pelopor lukisan kaca di Trusmi. Sebutan ‘Raden’ menunjukkan bahwa dia masih punya hubungan dengan Kraton Kasepuhan Cirebon, meski tampaknya hal itu tidak selalu relevan dengan status ekonominya. Ketika kami datang, pria berusia 70 tahun ini tengah menjiplak (tracing) sebuah sket lukisan kaca berukuran 20×25 cm yang bergambar Macan Ali. Ini adalah sebuah motif kuno berupa gambar macan yang disusun dari tulisan kaligrafi Arab, dan dulu dipakai sebagai panji-panji perang. Di dinding rumahnya, selain menempel beberapa penghargaan atas bidang seni lukisan kaca yang digelutinya, juga tergantung dua lukisan kaca hitam-putih berukuran 45×60 cm, bergambar tokoh wayang Kresna dan Brajamusti. Lukisan Kresna itu ternyata sudah dibeli Mas Komar seharga Rp 750 ribu.
Sugro, yang belajar teknik melukis kaca dari sang paman, Raden Saleh Jawahir, salah seorang lurah di Kraton Kasepuhan, kini sudah agak sakit-sakitan. Meski begitu penglihatannya masih sangat tajam. Terbukti, dia tidak memakai kacamata, dan mampu membuat lukisan dengan isen-isen (motif-motif pengisi) berupa titik-titik yang sangat kecil, yang menjadi salah satu trade mark-nya. Dua hal lain yang membuat Sugro terkenal di dunia lukisan kaca adalah teknik lukisan kaca hitam-putih, serta penemuannya berupa penggunaan pena (crown pen) untuk melukis. Sugro menunjukkan salah satu pena yang dipakainya, dan tiba-tiba saya jadi ingat pelajaran ‘menulis halus’ sewaktu masih di SD dulu. Guru mengajari kami menggambar huruf-huruf kursif dengan memakai pena ini, yang harus dicelupkan kembali ke tinta setelah menulis satu-dua huruf.