Lukisan kaca Paksi Nagaliman, Trusmi, Cirebon
Indonesia, Journey

Si Cantik dari Balik Kaca

Meski koleksi lukisan kaca Pak Tomik ini tinggal sedikit–karena ia sekarang lebih banyak membatik–lukisan yang dihasilkannya terasa lebih unik. Selain berwarna lebih ngejreng, lukisan wayang yang dibuatnya juga lebih bebas, karena tak terlalu terikat pada pakem yang mengharuskan ada proporsionalitas maupun mimik standar dalam figur wayang yang dia buat.

Masih ada beberapa pelukis yang harus saya datangi, dan atas petunjuk Mas Komar, esok harinya saya mengunjungi rumah Rafan S. Hasyim, di pinggir jalan raya antara Trusmi dan kota Cirebon. Opan, begitu dia biasa dipanggil, dikenal sebagai pelukis yang ‘ilmiah’, dengan spesialisasi pada lukisan wayang dan lukisan dekoratif bermotif geometris. Lukisannya dicirikan dengan pendesainannya yang menggunakan alat bantu garis-garis, serta pengulangan bentuk-bentuk. Opan hafal semua 350 jenis karakter wayang, begitu juga sejarah lukisan kaca di Cirebon. Mungkin itu karena dia juga berprofesi sebagai dosen filologi di Sekolah Tinggi Islam Negeri Cirebon dan mendalami naskah-naskah kuno.

Di rumahnya, ada sebuah lukisan kaca besar berukuran 100×200 cm, terdiri dari dua kotak yang berisi surat Al Fatihah dan Ayat Kursi. Lukisan itu seperti sebuah Alquran besar yang dibentangkan, penuh dengan berbagai dekorasi motif batik khas Cirebon seperti mega mendung, kawung, wadasan, untu walang, dan sebagainya. Yang lebih unik lagi, kedua halaman itu simetris satu sama lain, baik dari kotak dan bulatan tiap surat, hingga ke lekuk-lekuk hiasan dekorasinya! Ternyata, lukisan itu pesanan sebuah BUMN di Provinsi Banten, dan menurut Opan harganya Rp 15 juta, sudah termasuk bingkai.

Dari Opan juga saya belajar bahwa di salah satu motif kaligrafi lukisan kaca, ada yang disebut kaligrafi serabad, berupa lukisan hewan mitologi, namun tersusun dari huruf Alquran, Hadits, atau doa-doa yang dianggap manjur untuk menolak setan dan pengaruh jahat. “Karena itu kaligrafi serabad sering dipesan untuk dipakai sebagai rajah atau jimat.”

Dari Kaca ke Akrilik

Atas saran Opan, saya berkunjung ke rumah Pak Winta, di daerah Gunung Jati Beliau dianggap pelukis paling sepuh di Cirebon. Yang mengejutkan, meski beliau ini usianya delapan tahun lebih tua dari Pak Sugro, namun dia masih terlihat sangat bugar dan enerjik. Mungkin karena dia dulunya seorang polisi. Yang lebih mengejutkan lagi, dia telah menekuni seni lukisan kaca sejak kecil, belajar dari ayahnya yang seorang dalang. Tak heran jika spesialisasi Winta adalah lukisan kaca wayang. Di rumahnya teronggok sketsa-sketsa wayang dari satu kotak wayang. Menurutnya, tak ada pelukis lain yang punya koleksi sketsa wayang selengkap dia.

Pak Winta, seniman lukisan kaca Cirebon

Pak Winta dengan koleksi karya lukisnya.

Salah satu lukisan Winta yang dia buat tahun 1962 bergambar Gatutkaca, sampai sekarang masih tersimpan di rumah seorang pembelinya, yang juga bertempat tinggal di Cirebon. Lucunya, si pewaris lukisan kaca itu tak mau menjualnya kembali ke Winta meski sudah diiming-imingi dengan beberapa lukisan pengganti dan sejumlah uang.

Hingga sekarang, Winta masih aktif melukis, dan dalam setahun menghasilkan sekitar 30 lukisan berukuran besar. Meski, menurutnya, dia melakukan semuanya sendiri, karena dari ke-14 anaknya belum ada satu pun yang serius menekuni lukisan kaca. Untuk mendapatkan pembeli, dia sering minta tolong ke Opan untuk ikut membawakan lukisan-lukisannya saat ada pameran di Jakarta, meski hal ini sering terhadang oleh susahnya transportasi karena lukisan kaca itu rentan pecah. Sebagian pembeli datang ke tokonya di Pasar Pagi, sebagian lagi datang ke rumah.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *