Sepertinya membuat lukisan hitam-putih ini lebih mudah daripada lukisan dengan banyak warna, karena tinggal menggambar kaca dengan warna putih, terus setelah kering tinggal ditimpa dengan warna hitam. Namun ternyata tidak. “Karena hanya ada satu warna, maka kalau ada cacat, misalnya ada tetesan warna putih atau garis yang melenceng, maka itu akan kelihatan sekali,” tutur bapak dari tiga anak perempuan ini. “Sementara, kalau banyak warna, maka warna yang salah itu bisa dialihkan perhatiannya oleh warna lain.”
Lima Tahapan Melukis
Tidak seperti melukis biasa, di mana pelukis langsung menuangkan idenya dengan mencoretkan kuas di atas kanvas, membuat lukisan kaca lebih kompleks. Sekurangnya ada lima tahapan yang harus pelukis lakukan. Pertama, pelukis membuat plek, yakni pola atau sketsa di atas kertas kalkir bagi objek yang akan dilukis. Pelukis bisa membuat sketsa ini dengan menjiplak dari plek-plek lama yang pernah dibuat pelukis pendahulu mereka, menjiplak langsung dari wayang–bagi pelukis yang spesialisasinya lukisan kaca wayang–atau memesan sket yang sudah jadi dari orang lain.

Coba rasakan sulitnya melukis dengan pena di atas kaca.
Kedua, plek tersebut ditaruh di bawah selembar kaca bening–yang bisa dibeli di toko bahan bangunan, dengan ukuran yang diinginkan pelukis. Lalu pelukis membuat rengreng, yakni kontur atau outline lukisan di atas kaca dari plek tadi. Rengreng atau tracing ini menggunakan rapido atau pen tadi, tergantung keahlian si pelukis.
Ketiga, setelah semua outline lukisan selesai, pelukis melanjutkan dengan memberi isen-isen berupa titik-titik atau garis-garis pada objek-objek yang sudah digambar. Keempat, dilakukan proses nyungging, yakni memberi warna pada objek-objek yang sudah diberi isen, dengan memakai kuas kecil. Kelima, proses natar, yakni membuat latar belakang lukisan.

Sainah tengah menyungging lukisan Kereta Singa Barong.
Tiap proses ini membutuhkan jeda sekitar 1-2 hari, menunggu cat dari tiap proses itu mengering. Tujuannya agar ketika ditimpa dengan cat pada proses selanjutnya, cat itu tidak terpengaruh. Tahapan proses lukisan kaca ini mirip dengan membatik, hanya saja lukisan kaca mempunyai keuntungan, karena pelukis tidak perlu menutup cat hasil proses sebelumnya dengan malam (parafin), namun cukup menunggu hingga cat kering.
Lukisan kaca yang sudah jadi kemudian dibingkai, dengan bagian kaca yang dilukis tadi ada di sisi belakang. Jadi, yang kita lihat adalah bagian sebaliknya, yang halus dan tanpa goresan cat sama sekali. Di sinilah letak uniknya lukisan kaca. Tak heran jika teknik ini disebut melukis bergaya negatif, karena pelukis membuat karyanya dari sisi belakang, sementara yang diperlihatkan kepada penikmat lukisan adalah sisi depannya.
Belajar Dulu 1 Tahun
Konon, lukisan kaca mulai populer di masa pemerintahan Panembahan Ratu II (1568-1646), sultan keenam Kraton Pakungwati, sebelum kerajaan itu dibagi tiga menjadi Kraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Hal ini diketahui dari warna-warna alami yang digunakan untuk membuat sunggingan, yang populer dipakai di masa itu. Seiring zaman, warna alami kemudian mulai diganti zat warna sintetis, dan sejak tahun 1965 mulai memakai cat. Merk cat yang banyak dipakai adalah Kuda Terbang, dengan pengencer larutan terpentin. Sugro jugalah yang memopulerkan penggunaan cat dan terpentin ini. Sebelumnya para pelukis memakai tinta bak.