Lukisan kaca Paksi Nagaliman, Trusmi, Cirebon
Indonesia, Journey

Si Cantik dari Balik Kaca

Cat Kuda Terbang menjadi favorit karena tidak cepat kering. Ini memberi waktu kepada pelukis untuk menghapusnya jika terjadi kesalahan. “Kalau memakai cat besi akan cepat kering, sehingga sering merepotkan,” tutur Sugro. Satu kaleng cat Kuda Terbang (100 cc), harganya Rp 6.000. Jika dipakai untuk rengreng dan isen-isen, sekaleng cat ini bisa untuk 10 lukisan, atau 4 lukisan jika dipakai sebagai cat latar belakang.

Lukisan kaca yang dibuat Sugro, para pelukis di Trusmi, serta para pelukis lain di Cirebon sering disebut lukisan kaca klasik, karena objek-objek yang dilukis merupakan motif-motif yang ada sejak zaman dulu, misalnya motif kaligrafi dengan berbagai variasinya, motif wayang, motif kratonan (obyek lukisan berupa hal-hal yang berbau kraton), motif batik, dan sebagianya.

Sayang sekali, ketiga anak perempuan Sugro tidak ada yang mewarisi bakat lukis sang ayah. Malah, bakat itu turun ke tetangga-tetangga Sugro, yakni ke Astika dan istrinya Satinah, serta ke Eryudi–adik Astika–dan istrinya Sairi.

Sauiri, salah satu pelukis lukisan kaca Trusmi, Cirebon

Sairi, spesialis motif kratonan dengan warna-warna yang feminin.

Sairi, yang rumahnya persis di samping rumah Sugro, sore itu tengah membuat rengrengan lukisan bertema Gua Sunyaragi, salah satu tempat wisata populer di Cirebon. Beberapa lukisan kacanya yang sudah jadi, yang berukuran 20×25 cm, akan dia jual masing-masing seharga Rp 150 ribu. Sedangkan satu lukisan yang berukuran 45×60 cm akan dia jual seharga Rp 1 juta. Semuanya menggambarkan motif kratonan, seperti lukisan Taman Arum, Siti Hinggil, Makam Sunan Gunung Jati, dan sebagainya. Sairi memang dikenal sebagai pelukis wanita spesialis motif kratonan. Lukisan-lukisannya yang didominasi warna putih, krem, biru muda bergradasi, serta merah hati, sangat cantik dan memiliki karakteristik khas Cirebon. Saya langsung berdecak kagum begitu melihat karya-karyanya.

Belajar melukis lukisan kaca di Trusmi, Cirebon

Membuat lukisan kaca itu tidak mudah; pena sering terpeleset di atas permukaan kaca yang licin.

Kekaguman itu pula yang membuat saya ingin mencoba, bagaimana sih membuat lukisan kaca itu. Saya meminjam pena Sairi, dan menggantikannya membuat rengrengan pada lukisan yang tengah dia garap. Namun setelah beberapa kali mencoba membuat goresan melingkar pada sebuah motif bunga, saya pun menyerah. Sebab berkali-kali pula garis cat yang saya goreskan terlalu lebar, atau ketika goresan itu putus, sambungan yang saya buat berikutnya tidak rapi. Untungnya, cat yang masih basah itu mudah dihapus dengan kain lap. Tapi, kalau menggores satu garis saja perlu berulang-ulang, berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat satu lukisan? Sairi hanya senyum-senyum. Baginya, keseluruhan proses menggambar itu bisa dia selesaikan dalam seminggu saja. Bahkan untuk lukisan yang kecil-kecil, dia selesaikan dalam 3 hari.

“Untuk bisa membuat lukisan kaca, perlu belajar sedikitnya 1 tahun,” tutur Astika, yang rumahnya di belakang rumah Sairi. “Untuk belajar membuat lukisan wayang, lebih lama lagi, karena kita juga mesti tahu makna di balik karakter wayang itu.”

Sore itu, beserta Satinah, Astika tengah menyelesaikan lukisan Paksi Naga Liman, kereta kencana Kraton Kanoman. Di dekat mereka, tersandar di dinding, adalah lukisan Singa Barong–kereta kencana Kraton Kasepuhan–berukuran 60×90 cm, yang tinggal dibingkai. Astika, yang banyak membuat lukisan kaca bermotif kratonan, dikenal sebagai pelukis dengan keahlian membuat isen-isen yang sangat halus dan detail. Karya-karyanya dipajang di berbagai kantor pemerintah dan hotel. Salah satu masterpiece yang pernah dia buat adalah 113 lukisan kaca yang dipajang di lobi dan berbagai tempat di Hotel Bentani, Cirebon, yang disebut-sebut sebagai koleksi lukisan kaca terbesar di Indonesia.

Spesialis Motif Geometris

Mas Komar rupanya masih ingin menunjukkan tempat lukisan kaca yang lain, dan dia pun memboncengkan saya kembali, menyusuri jalan-jalan dan gang kampung. Melewati sebuah pemakaman, kami berhenti di sebuah rumah yang sepi. “Ini adalah rumah guru membatik saya, Pak Tomik,” kata Komar, yang memang seorang pengusaha batik Trusmi.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *