Indonesia, Journey

Sang Penjaga Wayang Golek Sunda

Tahun 2004 Enday pun memutuskan untuk full-time membuat wayang golek di rumahnya. Salah satu prestasi yang ia dan ayahnya banggakan adalah, mereka pernah mendapat order dari Hotel Indonesia Kempinski untuk membuat 1.350 wayang golek pada tahun 2010. Wayang-wayang itu akan hotel berikan sebagai hadiah untuk para tamu yang menginap. Pesanan itu dapat Enday selesaikan dalam waktu 5 bulan.

Satu Wayang Satu Minggu

Membuat wayang golek itu tidak bisa dilakukan dengan cepat, karena semuanya dikerjakan secara manual dengan tangan. Pertama, memotong bahan baku kayunya dulu, lalu mengukirnya untuk membentuk wajah, badan, dan kedua tangan. Selanjutnya menghaluskan, mengecat, dan merangkaikan batang bambu untuk poros atau tulang belakang wayang, serta untuk kedua tangannya. Terakhir, membuat dan memakaikan baju wayang.

Badan wayang golek terbagi menjadi beberapa segmen yang dibuat secara terpisah. Pertama bagian mahkota, kepala, hingga leher. Kemudian bagian badan dari bahu hingga pinggul—wayang golek tidak memiliki kaki. Lalu kedua tangan yang masing-masing terdiri atas dua segmen: satu segmen untuk telapak tangan hingga lengan bawah, satu untuk lengan atas. Sambungan ruas tangan ini dihubungkan dengan benang.

Wayang golek sunda yang belum selesai diberi baju

Badan wayang golek tidak berkaki.

Lalu ada batang bambu berukuran besar dengan ujung bawah yang runcing—agar dalang bisa menancapkan wayang pada batang pisang saat pertunjukan. Batang bambu ini ibarat poros atau tulang belakang, yang menembus bagian tengah badan wayang yang telah dilubangi, hingga ke leher wayang. Dua batang bambu kecil lainnya disambungkan ke kedua telapak tangan wayang sehingga dalang dapat memainkannya dan membuat wayang menjadi ‘hidup’. Terakhir, dibuatkanlah sarung batik untuk bagian bawah tubuh wayang, menjuntai hingga menutupi batang bambu poros.

Desain baju bagian atas pada karakter wayang laki-laki dan perempuan berbeda. Pada wayang laki-laki, baju atasnya menutup dari bahu hingga ke dada, sedangkan baju atas wayang perempuan berupa kemben atau kain penutup dada, sehingga bahunya kelihatan.

Bentuk mahkota karakter wayang laki-laki umumnya tinggi mengerucut dengan dominasi warna emas yang berkesan mewah, sedangkan mahkota karakter wayang perempuan lebih pendek dengan bagian belakang kepala yang meruncing seperti helai daun. Namun baik wayang laki-laki maupun perempuan punya kesamaan. Mereka sama-sama berwajah tirus, bermata tajam dan melebar, berhidung mancung, berdagu runcing, dan berpulas bibir merah. Karakter wayang yang ‘baik’ akan berkulit putih, sedangkan yang ‘jahat’ akan bermuka merah atau bertaring.

Untuk membuat kepala wayang sendiri Enday perlu waktu tiga hari. Membuat wayang yang berukuran besar, misal tingginya 1 atau 1,5 meter juga lebih lama karena untuk memahat, membentuk, dan membolak-balik kayunya perlu waktu dan tenaga ekstra. Normalnya, untuk membuat satu karakter wayang hingga lengkap perlu waktu satu minggu. Di sanggar ini ada tujuh orang kerabat Enday yang bekerja. Ibu Enday membuat baju wayang, sedangkan Enday membuat kepala wayang. Yang lain memotong kayu, membuat batang bambu, dan mengecat wayang.

Baju wayang golek sunda tak kalah unik

Baju wayang goleknya tak kalah unik.

Mengenai bahan baku kayu dan bambu untuk wayangnya, Enday mengaku tidak kesulitan. “Kayu pule, atau orang Sunda menyebutnya kayu lame, masih banyak terdapat di Bogor ini. Biasanya saya membeli satu pohon langsung. Dengan itu saya bisa membuat ratusan karakter wayang, dan baru habis sekitar 6 bulan kemudian.”

Kayu pule (Alstonia scholaris) Enday pilih karena ringan, mudah dibentuk, dan tidak mudah retak oleh perubahan suhu. “Ini penting karena pembeli saya kebanyakan berasal dari Eropa yang punya empat musim. Perbedaan suhu tiap musim cukup besar dan bisa membuat wayang retak atau pecah kalau kayunya tidak cocok.”

Untuk poros bambunya Enday menggunakan bambu yang biasa orang desa gunakan untuk membuat tali atau dinding bambu. Sedangkan kain batik, manik-manik, benang emas, dan pernak-pernik baju lainnya Enday beli dari pemasok di Jogja dan Pekalongan. Cuma saya tidak beruntung, hari Sabtu ini tidak bisa melihat proses pembuatan baju wayang, karena Ibunda Kang Enday sedang libur. ”Beliau bekerja Senin sampai Jumat. Senin nanti datang lagi ke sinilah,” ajaknya.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *