Indonesia, Journey

Sang Penjaga Wayang Golek Sunda

Enday merupakan generasi kedua yang meneruskan kerajinan wayang golek sunda ini. Ayahnya, Almarhum Entang Sutisna, sudah membuat kerajinan ini sejak tahun 1965. Entang dulu tidak berguru ataupun punya leluhur perajin wayang golek. Yang ia lakukan sejak kecil adalah setiap kali ada pertunjukan wayang golek, ia selalu datang dengan membawa pensil dan kertas. Lalu ia membuat gambar sket karakter-karakter wayang yang dalang mainkan. “Dengan cara itu, ayah saya hafal dan mampu membuat 300 karakter wayang yang berbeda.” Wow.

Dawala, Gareng, dan punakawan lain di wayang golek sunda.

Punakawan — para penggembira dalam pertunjukan wayang golek.

Enday sendiri tak kalah keren, karena ia bisa mengukir karakter-karakter wayang dengan hanya melihat ayahnya bekerja. Ia tak punya sket atau ‘contekan’ gambar karakter tokoh-tokoh wayang baik dari cerita Ramayana ataupun Mahabharata, yang berjumlah ratusan. “Saya menghafalnya di kepala saya,” tutur Enday.

Saya pun mencoba mengetesnya. Saya ambil satu kepala wayang laki-laki yang berwajah putih dan bermahkota tinggi, yang saya yakini sebagai tokoh Baladewa dalam kisah Mahabharata. Ternyata… “Bukan. Itu bukan Baladewa, tapi Rama,” jelas Enday. “Kalau Baladewa ada jenggotnya, dan badannya berwarna kuning.” Oops.

Order 1.350 Wayang Golek

Enday mulai mengikuti jejak ayahnya membuat wayang golek tahun 1987, saat masih duduk di kelas 1 SMP. Salah satu motivasinya adalah karena pada tahun 1972, Presiden Suharto dan Ibu Tien pernah berkunjung ke rumah ayahnya dan memesan 120 wayang golek, seharga Rp 1.000 per wayang. “Waktu itu uang Rp 1.000 bisa untuk membeli 77 kilogram beras,” mata Enday berbinar-binar meneruskan cerita dari ayahnya itu.

Namun meski Enday tahu membuat wayang golek itu bisa menghidupinya, ia tidak serta-merta menekuni profesi itu. Setelah lulus dari Jurusan Administrasi Negara Universitas Terbuka, Enday bekerja di sebuah hotel di Jakarta selama beberapa tahun. Wayang-wayang goleknya yang ia kerjakan sebagai sambilan, ia titipkan ke toko suvenir di Kebun Raya Bogor serta di Pabrik Gong Pancasan. Ia optimis cara itu bisa mengundang para wisatawan asing untuk mencari hasil karyanya.

Wayang gollek sunda dengan ciri khas hidung mancung dan dagu runcing.

Wajah tirus, hidung mancung, dagu runcing – ciri khas wayang golek sunda.

Prediksi Enday benar. Para wisatawan asing dari Belanda, Jerman, Inggris, dan Prancis yang datang ke Jakarta atau Bogor, mulai berkunjung ke rumahnya untuk membeli atau memesan suvenir wayang golek. Di satu akhir pekan bisa puluhan wisatawan. “Umumnya mereka membeli karakter wayang Rama dan Shinta, sebagai simbol cinta yang berakhir bahagia.”

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *