Angkor Wat biksu muda
Journey, Mancanegara

Pagi Tak Biasa di Angkor Wat

Lautan Susu digambarkan dengan air yang bergolak, hewan-hewan di dalamnya seperti ikan, ular, kura-kura hingga buaya juga ikut bergolak. Di langit atasnya para apsara beterbangan, begitu juga gajah Airavata dan kuda Ucchaissravas, sebagai hasil kreasi pengadukan Lautan Susu itu. Dewa Wisnu mengontrol proses pengadukan itu dari puncak Gunung Mandara, dibantu Dewa Indra yang mengawasi dari atas. Sementara avatar Wisnu, seekor kura-kura bernama Kurma, menjaga bagian dasar gunung agar tidak tenggelam ke dalam laut.

Tak Ada Dolar, Baht pun Oke

Penganut Buddha Therawada sedang berdoa di Angkor Wat

Pengunjung lokal tak hanya berwisata tapi juga bersembahyang di Angkor Wat.

Ini saya baru mengunjungi sisi selatan dan separuh sisi timur, tapi sepertinya sudah menghabiskan hampir satu jam sendiri. Masih ada Galeri Timur sayap utara yang bercerita tentang kemenangan Dewa Wisnu atas Asura. Lalu Galeri Utara sayap timur yang bercerita tentang kemenangan Krisna atas Bana, dan sayap barat tentang kemenangan para dewa atas asura. Terakhir, Galeri Barat sayap utara yang menceritakan pertempuran Lanka dari kisah Ramayana, dan sayap selatan yang menceritakan pertempuran Kurusetra dari Mahabharata.

Tapi, mengunjungi candi sebesar ini, dengan banyak lorong, gang, dan ruangan-ruangan serta tingkat-tingkat, di samping banyaknya pengunjung yang lain, bisa membuat kita bingung dan melewatkan bagian tertentu. Saya tak sempat mengunjungi Galeri Utara, karena setelah dari Galeri Timur, saya diajak Tong masuk ke area dalam.

Di sebuah sudut yang menuju area 5 menara yang lebih tinggi di bagian pusat, anak tangga untuk menuju ke atas sepertinya sudah rapuh, sehingga para pengunjung yang agak ramai di area ini mesti antri dan berhati-hati menaiki tangga darurat dari besi. Kesempatan ini digunakan  sebuah kelompok anak-anak muda lokal yang memakai kostum tradisional Kamboja untuk membujuk para pengunjung berfoto bersama. Saya akhirnya terbujuk untuk berfoto-foto, tapi lalu tersadar bahwa uang dolar yang saya bawa masih yang pecahan besar. Rupiah saya tidak punya. Tapi, eh, saya punya 200 baht di dompet.

“Bolehkah saya menyumbang pakai baht?” tanya saya. Si pemuda yang memotret saya mengangguk. Iya ya, kan bisa saja dia mengira saya turis dari Thailand, hahaha!

Karna versus Arjuna

Area pusat-atas ini lebih banyak didominasi dengan relief-relief Apsara berbadan setinggi manusia normal. Bidadari penari ini mengenakan kostum rok bawahan, kalung leher dan tiara yang berornamen rumit, namun dengan bagian dada terbuka. Tong menjelaskan bahwa fashion wanita-wanita Khmer kelas atas di zaman itu memang begitu. Tidak heran juga jika bagian dada ini lebih hitam dan berkilat-kilat dibanding bagian tubuh lainnya, pertanda bahwa bagian ini sering disentuh-sentuh pengunjung yang iseng,

Relief Apsara di Angkor Wat

Para Apsara yang mencerminkan fashion para wanita bangsawan Khmer di era Angkor Wat.

Uniknya, sebagian besar pengunjung hari ini adalah turis lokal, dan tampaknya mereka datang tidak hanya untuk berwisata tapi juga bersembahyang. Beberapa patung Buddha saya lihat mengisi ceruk ruangan di beberapa sudut, dan orang-orang besembahyang dan menyalakan dupa di depannya. Memang, agama Hindu dan Buddha bergantian menjadi agama utama di era Angkor. Di masa sekarang, kata Tong, sekitar 92,25 persen penduduk Kamboja menganut agama Buddha.

Kami turun lagi di area depan, dan menikmati galeri Ramayana, yang menggambarkan perang antara Rama melawan Rahwana di negeri Alengka. Bergeser ke selatan, ternyata saya masih harus menyaksikan perang lagi. Kali ini perang Bharatayuda di medan Kurusetra yang penggambarannya tak kalah spektakuler.

Di galeri sepanjang 49 meter ini, pasukan Kurawa berbaris rapi dari sisi kiri, sedangkan pasukan Pandawa dari sisi kanan. Keduanya menuju titik tengah di mana perang digambarkan berkecamuk dengan dahsyat. Pihak Kurawa dipimpin Karna, menggantikan Pendeta Dorna yang telah gugur. Sementara Bhisma, panglima Kurawa sebelumnya, digambarkan tengah terbaring disangga ratusan anak panah yang menancap di badannya. Pihak Pandawa dipimpin Bima yang menunggang gajah, dan Arjuna yang naik kereta kuda dikusiri Krisna.

Angkor Wat Siem Reap Cambodia

Angkor Wat dilihat dari jalan utama sisi barat.

Tampaknya sang pemahat paham betul di mana bagian paling menentukan dalam perang besar ini. Digambarkan, Karna menjadi lengah karena harus mengangkat roda keretanya yang sengaja diperosokkan ke lumpur oleh kusirnya sendiri, padahal Arjuna telah siap melesatkan anak panah saktinya. Akibatnya, Karna pun gugur seketika.

Para turis makin ramai datang, dan hari mulai panas. Saya keluar dari candi ini dan masih harus menyusuri jalan utama sisi barat yang panjang sekali. Setelah melewati jembatan di atas baray yang dipenuhi air, barulah kami bertemu pengemudi remork dari hotel yang ditugaskan untuk menjemput. Angkor Wat yang merah terakota tampak cerah tertimpa matahari menjelang siang, dengan lima menaranya yang kokoh menjulang. Saya pulang dulu ke hotel untuk beristirahat dan menikmati sarapan pagi yang tertunda, dan mudah-mudahan nanti sore bisa datang lagi untuk menikmati Galeri Utara. [T]

Standard

2 thoughts on “Pagi Tak Biasa di Angkor Wat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *