Angkor Wat biksu muda
Journey, Mancanegara

Pagi Tak Biasa di Angkor Wat

Angkor Wat bukan candi pertama yang dibangun, melainkan di masa pertengahaan. Sebab era kerajaan yang membangun candi-candi ini dimulai sejak era King Isanavarman I di akhir abad ke-6, kemudian diikuti era Angkor yang berawal dari abad ke-8 saat King Jayavarman II mulai memerintah, hingga kemudian era ini surut dan hilang di abad ke-14 setelah pemerintahan Jayavarman Paramesvara.

Galeri Pahat 800 Meter

Mempelajari sejarah ratusan tahun sebuah negeri buat saya tentu bukan hal yang mudah, apalagi kalau harus ditambah mengamati relief-relief candinya, kemudian memfoto-foto. Wah, bisa-bisa perlu waktu sebulan sendiri untuk menikmati sambil meneliti Angkor Wat ini saja.

Koridor selatan Angkor Wat

Cuma ingin menunjukkan kesimetrisan koridor selatan Angkor Wat di belakang saya.

Saya tidak sempat berpikir tentang kerajaan dan raja-raja pembangun kompleks Angkor Wat ini, karena begitu memasuki sayap bangunan sisi selatan saya langsung syok. Selain menjadi mahakarya monumen keagamaan,  Angkor Wat juga merupakan sebuah mahakarya arsitektur. Kalau melihat denahnya, candi ini dibangun dengan keteraturan dan kesimetrisan yang luar biasa. Belum lagi relief-relief timbul yang menyelimuti keempat sisi dinding luarnya yang jika diukur panjang totalnya mencapai 800 meter. Ini masih ditambah lagi dengan sekitar 600 relief timbul dan 2.000 relief bidadari Apsara di dinding-dinding bagian dalam.

Seperti sekarang ini, di sayap sisi selatan, ternyata mempunyai dua koridor bersisian, memanjang dari depan ke belakang. Keteraturan tiang-tiang batu yang menyusun koridor luar ini begitu simetris hingga jauh ke belakang sana. Sama persis seperti saat kita berada di dalam lift yang keempat dindingnya dari cermin, maka kita akan melihat bayangan kita yang sama persis hingga puluhan banyaknya.

Sementara koridor satunya yang berbatasan dengan dinding candi ini berlantaikan batu dan juga beratap batu, namun berpola seperti tegel dengan motif bunga bulat berdaun delapan. Tiap tegel disekat oleh material plaster namun tampak seperti rangka kayu, yang memanjang lurus sealur dengan koridor.

Dinding candinyalah yang membuat siapapun yang ke sini pasti akan terpesona. Sebab di bagian dinding inilah galeri relief yang memanjang menyelimuti keempat dinding luar candi ini. Beberapa bagian relief timbul di dinding ini berkilat kehitaman akibat sering disentuh pengunjung. Mungkin karena alasan itu pula di sepanjang koridor ini diberi tali dan kayu pembatas agar pengunjung tidak terlalu dekat dengan dinding.

Biksu mengagumi relief Angkor Wat koridor selatan

Siapapun akan berlama-lama menikmati kemegahan relief parade Raja Suryavarman II di koridor selatan Angkor Wat.

Reliefnya, yang seperti lembaran kanvas raksasa itu berada di ketinggian dinding setinggi paha orang dewasa, selebar sekitar dua meter ke atas. Kalau diamati lebih teliti, dinding ini sebenarnya balok-balok batu pipih-rata yang disusun dengan rapat, mungkin memakai semacam semen, sehingga  relief-reliefnya tergambar mengalir dengan smooth seolah dindingnya bukan dari sambungan batu-batu. Berbeda dengan misalnya Candi Borobudur yang balok-balok batunya agak renggang.

Tiap dinding ini dibagi lagi menjadi dua ‘sayap’. Jadi ada Galeri Selatan sayap barat dan timur, Galeri Timur sayap selatan dan utara, Galeri Utara sayap timur dan barat, serta Galeri Barat sayap utara dan selatan.

Antara Neraka dan Lautan Susu

Galeri Selatan sayap barat sepanjang 96 meter –tempat saya terpaku sekarang ini–   mengisahkan prosesi parade Raja Suryavarman II, pembangun Angkor Wat. Jadi reliefnya merupakan gambaran peristiwa nyata yang terjadi pada saat itu. Pasukan berjalan kaki yang berada paling depan berderet-deret hingga puluhan orang panjangnya, diikuti 20 komandan pasukan yang mengendarai gajah. Gajah ke-12 membawa Sang Raja, yang reliefnya paling besar dan jumlah payung paling banyak, 15 buah. Memandang relief yang grande ini membuat saya ngeri sekali membayangkan betapa hebatnya kekuasaan sang raja di masa itu.

Yama Sang Dewa Neraka di Angkor Wat

Sang Dewa Neraka tengah menghukum para pendosa.

Galeri di sisi timurnya sepanjang 66 meter bercerita tentang surga dan neraka, dengan tokoh sentralnya Dewa Yama alias Dewa Neraka. Relief-reliefnya mengerikan dalam arti yang sebenarnya, membuat bulu kuduk berdiri. Di sini, para pendosa ditarik lehernya dan digiring lalu dipukuli dan kemudian dicemplungkan ke dalam neraka. Nerakanya bermacam-macam, dengan tingkat terakhir yakni tingkat 30 alias Maharaurava, digambarkan dengan relief orang sedang diikat di dinding dan sekujur tubuhnya dipaku.

Mitos Pengadukan Lautan Susu di Angkor Wat

Ravana yang berkepala 10 memimpin para raksasa mengaduk Lautan Susu.

Galeri Timur di sayap selatan berisi relief sepanjang 49 meter yang membuat saya melongo. Galeri in bercerita tentang Pengadukan Lautan Susu, salah satu mitos terpopuler dalam agama Hindu. Diceritakan, para dewa dan raksasa bekerjasama memutar poros bumi dengan bergantian menarik badan naga Vasuki untuk mendapatkan Tirta Amarta, air keabadian. Badan Vasuki yang panjang melilit Gunung Mandara, dan para dewa serta raksasa menariknya bergantian terus-menerus selama 1.000 tahun untuk mengekstrak lautan dunia, Lautan Susu. Namun kerjasama itu berantakan ketika Tirta Amarta mulai terbentuk. Para dewa batal memberi separuh bagian air kehidupan itu kepada para raksasa sehingga mereka berusaha mencurinya.

Dalam relief itu digambarkan, pemimpin para raksasa, yakni Ravana, memegang kepala Vasuki yang berjumlah 5. Di sampingnya, berderet 95 raksasa untuk menarik badan naga. Di pihak lain, 88 dewa juga berderet memegang badan naga, dengan Hanuman berada di bagian ekor. Adanya Ravana dan Hanuman ini agak ‘menyimpang’ dari legenda aslinya, dan ini memang kreasi bangsa Khmer yang mengombinasikan Veda dengan kisah Ramayana.

Standard

2 thoughts on “Pagi Tak Biasa di Angkor Wat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *