Di lantai satu, langsung menyambut begitu saya masuk, adalah replika Pastor P. Bonneke S.J. yang sedang naik perahu tradisional belo. Pastor ini gigih melakukan misi Katolik di Flores, namun meninggal saat perahunya tenggelam di Selat Lewotobi pada tahun 1889.

Pastor Bonneke menyambut dengan perahunya begitu pengunjung masuk museum.
Kita juga bisa membaca sejarah misi Katolik di Hindia Belanda, timeline berdirinya Katedral Jakarta, dan profil para imam dan uskup katedral dari masa ke masa. Foto tujuh orang Suster Ursulin—yang kemudian mendirikan Sekolah Santa Ursula di kompleks katedral—juga ada di sini, termasuk kursi roda kuno yang dipakai Suster Emmanuella, salah seorang suster itu. Sayang, setiba di Batavia, dia meninggal dunia empat hari kemudian. Lalu ada sepeda onthel Pastor Jan Weitjen—yang sangat fasih berbahasa Jawa halus—yang membina umat di Yogyakarta.

Buku musik berbahasa Latin di sudut lantai dua.
Lantai dua menampilkan buku-buku kuno dan manuskrip sejarah. Salah satunya, buku nyanyian gereja dalam bahasa Latin. Lalu ada ruangan yang mendokumentasikan kunjungan tiga Paus ke Indonesia: Paus Paulus VI (1970), Paus Johannes Paulus II (1989) dan Paus Fransiskus (2024). Berbagai relikwi—benda peninggalan tokoh suci Katolik—juga ada di sini, tersimpan di dalam relikwarium tembus pandang.
Beberapa monstrans, yakni wadah keemasan berbentuk pancaran sinar matahari yang biasa digunakan saat sakramen, juga ada. Lalu ada kasula, yakni jubah imam Katolik yang dikenakan saat Misa Kudus. Warna jubah dan hiasan bordir emasnya berbeda-beda, menyesuaikan dengan masa atau perayaan dalam kalender Katolik. Di sini masih tersimpan kasula dari abad ke-19, dengan ciri khasnya yakni hiasan salib besar di bagian punggung.

Berdoa di bawah pohon rindang di depan Gua Maria.
Yang paling menarik buat saya adalah adanya patung Maria berkebaya, dengan bordir lambang Pancasila di bagian dada. Lalu sebuah replika katedral yang dibuat dari bahan koran bekas, yang dibuat oleh empat narapidana binaan di Lapas Narkotika Bangli-Bali. Dibuat selama 12 hari, miniatur katedral ini menurut saya sangat indah, kalau tidak dibilang sebuah masterpiece.
Saya keluar dari museum dan menuju halaman depan, melewati halaman Gua Maria yang rindang, dengan tiga orang tengah duduk berdoa di bangku depannya. Bunyi lonceng katedral kini berdentang-dentang di atas kepala, bersahutan dengan suara azan salat Jumat dari Masjid Istiqlal di seberang jalan. Saya akan ke sana. Namun sebelum itu, saya pandangi lagi wajah Bunda Maria di atas pintu utama, di bawah Rozeta. Wajahnya yang cantik dengan senyum yang teduh, serasa pas dengan kalimat latin di bawahnya: Beatam me dicentes omnes generationes—Semua keturunanku menyebut aku bahagia. [T]
BOKS 1:
Gereja Katedral Jakarta
Jl. Katedral No. 7 Jakarta Pusat 10710, Tel: 021-520 5455
Jadwal Misa: Misa harian (06.00 & 18.00), misa Jumat Pertama (06.00, 12.00 & 18.00), misa Sabtu (06.00 & 18.30), misa Minggu (08.30, 11.00 & 18.00).
Museum Katedral
Buka: Selasa-Sabtu, 10.00-16.00
Tutup: Minggu & Senin
Biaya: Gratis