Gereja Katedral Jakarta dilihat dari Masjid Istiqlal
Indonesia, Journey

Jumat Bersama Maria

Dua orgel pipa ada di dalam katedral ini. Satu orgel yang berukuran lebih besar dengan 1.000 pipa, terletak di sisi kanan ruang ibadah utama. Orgel ini dibuat perusahaan Verschueren dari Belgia, dan mulai dipasang tahun 1988, bersamaan dengan pemugaran besar katedral. Orgel ini berasal dari orgel lama dari Desa Amby di Maastrich-Belanda, yang dibeli karena coraknya cocok dengan gaya gotik katedral. Untuk memasang ulang orgel ini sampai dibutuhkan tiga insinyur Belgia.

Kursi jemaat di Katedral Jakarta

Deretan bangku jemaat, sudah tua namun masih kokoh mengilat.

Orgel yang lebih kecil dan lebih kuno—digunakan sejak katedral ini diresmikan tahun 1901—ada di lantai balkon, tepat di bawah Rozeta. Orgel ini berasal dari Stuttgart-Jerman dan memiliki 400 pipa. Mengingat usianya, sekarang orgel ini jarang digunakan kecuali untuk keperluan khusus.

Hal lain yang membuat saya kagum adalah deretan kursi-kursi kayu panjang untuk tempat duduk jemaat. Terdiri dari empat lajur memanjang: dua di bagian tengah, dua lagi di bagian kanan-kiri, di bawah balkon. Meski usia kursi-kursi kayu ini sudah sangat tua—dari tahun 1890—namun masih kokoh dan mengilat. Tidak ada bunyi derit sedikit pun ketika diduduki. Bagian tempat duduknya saja yang dari anyaman rotan secara teratur diganti jika ada yang rusak.

Rosa Mystica lambang Bunda Maria

Ornamen kaca patri Rosa Mystica, lambang Bunda Maria.

Mimbar khotbah lama yang dinaungi tudung seperti kerang, yang berfungsi untuk memantulkan suara pengkhotbah, hingga kini masih cantik dengan relief-relief bergaya gotik di atas dan di bawahnya. Mimbar ini dibuat di Den Haag dan dipasang tahun 1905. Di pegangan tangga menuju mimbar ini ada patung Rasul Petrus memegang kunci surga, dan Rasul Paulus yang memegang sebuah buku dan sebilah pedang. Di bawahnya lagi bertengger ukiran berbagai pose gargoyle, makhluk kegelapan pengusir roh jahat.

Gargoyle di Katedral Jakarta

Para gargoyle dengan pose-posenya yang menakutkan

Di sisi selatan dan utara ruang ibadah utama masing-masing terdapat dua ruang pengakuan dosa. Di dinding atasnya, mengitari ruang utama, terdapat 14 lukisan jalan salib dari potongan-potongan keramik, yang menceritakan kehidupan Yesus dari lahir hingga disalib.

Saat sedang tidak ada misa, hanya beberapa orang jemaat saja yang saya lihat terpekur berdoa di bangku panjang, menjadikan suasana di ruangan berlangit-langit tinggi ini makin khidmat. Satu atau dua jemaat menyalakan lilin atau duduk berdoa di depan pieta, yang ada di sudut sisi kanan dari pintu masuk.

Ruang ibadah utama Katedral Jakarta

Ruang ibadah utama, berhias menyambut Yubileum atau Tahun Ziarah Pengharapan.

Pieta ini replika patung karya Michelangelo yang menggambarkan Bunda Maria tengah memangku Yesus setelah diturunkan dari salib. Berbeda dengan pieta di Basilica St. Peter di Vatikan yang penuh sesak dengan orang—sebagian mau berdoa, tapi lebih banyak lagi yang ingin memotret—pieta di Katedral Jakarta ini sepi, tenang, dan temaram oleh cahaya lilin, sehingga jemaat lebih khusyu dalam berdoa.

Koleksi Unik di Museum

Gereja ini mempunyai lantai balkon yang ada di atas pintu masuk, menyambung ke bagian kanan dan kiri. Sejak tahun 1991 balkon ini difungsikan sebagai Museum Katedral, yang menyimpan koleksi sekitar 400 benda-benda gerejani, bahkan dari era sebelum gereja ini berdiri. Namun sejak 14 November  2018, museum ini pindah, menempati gedung tersendiri berlantai dua di bekas pastoran lama, di depan Gua Maria di sisi utara katedral. Selain lebih luas, museum ini terasa lebih fresh, lebih dingin, namun juga terasa agak sepi karena mungkin belum banyak orang yang tahu. Tiket masuknya gratis, kita cuma perlu mengisi buku tamu.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *