Kami ke arah timur laut menuju Pulau Kelapa untuk menjemput Hani, salah satu peserta yang baru menyusul pagi ini. Pulau Kelapa merupakan pulau berpenduduk, dan ada sekitar 6.000 orang di sini, terpadat di Kepulauan Seribu. Dari Pelabuhan Muara Angke tersedia angkutan umum perahu ke pulau ini, selain angkutan umum yang ke Pulau Pramuka dan Pulau Tidung.

Jembatan menuju Pulau Panjang Kecil. Foto dari kunjungan berikutnya.
Sebelum sampai ke Pulau Kelapa, kami melewati Pulau Panjang, dan tampak pulau ini dikelilingi beton-beton yang berfungsi menahan ombak, melindungi pembangunan lapangan terbang yang katanya akan segera selesai. Di selatan pulau ini pula terdapat Pulau Panjang Kecil. Di sinilah kemudian kami menambatkan perahu untuk makan siang.
Ikan-ikan yang bergaris-garis seperti zebra, dengan warna garis putih, hijau, biru, kuning segera menyerbu begitu kami melemparkan sisa makanan. Di pulau yang hanya terdapat 1 rumah ini air lautnya sungguh cantik, hijau muda bening. Dari ujung dermaga hingga ke daratan, airnya dangkal sehingga kelihatan dasarnya. Mungkin karena sekeliling dermaga pulau ini dikelilingi karang penahan ombak. Saat siang seperti ini, berendam di sini sungguh segar.
Kami melanjutkan perjalanan ke utara menuju Pulau Bulat. Aya berencana kemping di sini. Namun ternyata ombak di dermaga pulau ini cukup tinggi sehingga kurang aman untuk bersandar. Pak Boyo pun mengarahkan perahu ke timur, menuju Pulau Pemagaran. Pulau ini disebut juga Pulau Anjing karena pemiliknya memelihara banyak anjing.

Pulau Pemagaran dengan air laut paling cantik di Kepulauan Seribu. Sayang tidak boleh merapat.
Meski kami sudah mampir ke pulau-pulau yang menurut kami ‘cantik’, Pulau Pemagaran ini membuat saya berdecak kagum. Dermaga pulau ini terletak di tengah pulau, yang berbentuk seperti laguna dengan air berwarna hijau emerald. Untuk menuju dermaga ini sendiri kami memasuki sebuah kanal, dengan air yang juga hijau emerald. Sayang sekali, penjaga pulau tidak mengizinkan kami bersandar, sehingga kami tak bisa lebih lama menikmati kecantikan pulau ini. Kami pun bergerak lagi, kali ini ke selatan. Menurut Pak Boyo, kami mungkin bisa menginap di Pulau Kotok Kecil atau Kotok Besar.
Bertemu Si Maskot Jakarta
Matahari sudah condong ke barat begitu kami sampai di dermaga Pulau Kotok Kecil. Sebuah perahu yang cukup besar, yang ternyata perahu para pencari teripang dari Madura, bersandar di ujung barat dermaga. Tampaknya mereka juga tengah mampir ke pulau ini. Beruntung, oleh penjaga pulau, kami diizinkan kemping di sini. Mengisi waktu yang tersisa sebelum matahari terbenam, kami berlayar lagi sedikit ke selatan, ke Pulau Kotok Besar.

Si ganteng Elang Bondol maskot Jakarta.
Pulau Kotok Besar ini dibagi menjadi dua bagian. Sisi barat merupakan lokasi Resort Alam Kotok, sedangkan di sisi timur tadinya merupakan lokasi Coconut Island Resort, yang kemudian tutup tahun 2003. Sejak November 2004, bagian ini menjadi tempat penangkaran dan penglepasan kembali elang bondol (Brahminy Kite). Program itu didukung oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN), sebuah organisasi non-profit. Menurut penjaganya, Slamet, elang-elang yang ditangkar di sini diperoleh dari penyitaan perdagangan satwa ilegal.