Sunset di Kepulauan Seribu dari dermaga Pulau Kotok Kecil
Indonesia, Journey

Mengembara ke Kepulauan Seribu

Sas mendirikan tenda-tenda, tak jauh dari bangunan yang menyerupai lobi resor. Tampaknya dulu pulau ini mempunyai fasilitas resor, kafe, dan sarana olahraga air, namun kini semuanya tidak beroperasi lagi. Hanya Pak Dedi dan beberapa pemuda saja yang masih setia menjaga pulau yang konon dimiliki Tommy Soeharto ini.

Malam menjelang, dan setelah kekenyangan menikmati makan malam dengan menu ikan bakar dan sambal kecap, kami menghabiskan waktu di dermaga dengan ngobrol-ngobrol. Pak Dedi datang membawa gitar. Di luar dugaan saya, berlawanan dengan usianya yang sudah 60-an, yang dia bawakan adalah lagu-lagu pop Indonesia yang sedang populer saat ini.

“Saya hapal semua lagu-lagu Agnes Monica. Yang paling saya suka, Matahariku,” tuturnya bangga. Saya saja tidak hapal. “Sengaja saya menyanyikan lagu-lagu anak muda, supaya saya juga tetap merasa muda. Itu satu-satunya cara bertahan di pulau ini,” tambahnya. Ya, hidup di pulau tanpa istri dan anak, orang mesti mencari cara agar tidak cepat tua karena bosan.

Sunrise di Kepulauan Seribu Jakarta

Sunrise dengan hiasan perahu nelayan tengah berlayar, pemandangan sehari-hari di Kepulauan Seribu.

Saya ikut-ikutan menyanyi sampai suara saya serak. Angin laut mulai terasa kencang dan dingin. Bulan bulat sempurna, dan dini hari nanti diramalkan akan ada gerhana. Sebagian besar peserta tidur di dermaga memakai sleeping bag. Saya memilih untuk menyusul Mark, Gyoengy, dan Nicole, yang sudah tidur di tenda masing-masing di pulau. Ternyata, kemudian saya mesti bangun beberapa kali karena udara di dalam tenda terasa panas.

Antara Tongkeng dan Panjang Kecil

Saya terbangun kesiangan dan sunrise sudah lewat. Yang beruntung mendapatkannya cuma Budi. Dia juga yang sempat melihat gerhana bulan semalam, yang ternyata dimulai jam 3 dini hari.

Setelah sarapan dengan kopi dan nasi goreng, Guttorm, Siska, dan Johannes menghabiskan waktu yang ada dengan berenang dan bermain-main dengan ikan berwarna-warni yang banyak terdapat di sekitar dermaga. Setelah agak siang, kami pun berkemas-kemas dan kemudian kembali berlayar. Kali ini kapal mengambil arah timur, menuju ke Pulau Tongkeng.

Pulau Tongkeng Kepulauan Seribu

Kursi hot pink Pulau Tongkeng, sepertinya lama tak diduduki penghuninya.

Bagi orang yang baru ke Kepulauan Seribu, pasti tak akan bisa membedakan antara pulau yang satu dengan yang lain karena tampilannya sama, seperti gerumbul pepohonan dengan garis pantai putih, dan dermaga kayu. Mengingat jumlah pulaunya yang banyak, sekitar 125 pulau, dan membentang dari utara Jakarta hingga 120 km ke utara, hanya tukang perahu saja yang tampaknya hapal nama dan letak pulau-pulau. Pak Boyo dan Pak Pendi, misalnya, bisa mengetahui nama pulau dari dermaganya. Padahal menurut saya, dermaga-dermaga itu sama saja bentuknya: dari kayu, dengan bangunan seperti pos ronda bergenteng merah. Satu-satunya cara yang pasti, menurut saya, hanya mendarat ke pulau dan mencari papan namanya, yang menunjukkan nama pulau dan luasnya.

Pulau Tongkeng, konon dimiliki pengusaha Setiawan Djodi, adalah sebuah pulau yang cantik. Pantai putih di dekat dermaga dihias dengan  tempat-tempat duduk berwarna hot pink. Ada dua bungalow di pulau ini, namun nampaknya jarang dipakai. Rumah-rumah penjaga ada di bagian belakang, berdekatan dengan menara komunikasi selular, yang agak mengganggu pemandangan. Penjaga segera memanjat pohon-pohon kelapa di belakang bungalow, dan tak lama kemudian air dan daging buah kelapa yang segar dan manis mengisi kerongkongan.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *